Rendy Moonshine
Lorem ipsum vim ut utroque mandamus intellegebat, ut eam omittam ancillae sadipscing, per et eius soluta veritus.
Selasa, 28 Oktober 2014
Cara Mudah me-ROOTING Android !! (Semua Tipe)
bay : Rendy putra valkyrie
boster
Yang masih bingung apa itu rooting android, saya kasih sedikit penjelasannya. Rooting diambil dari kata Root yang artinya akar, haha.. tapi bukan itu, maksudnya adalah, Root merupakan suatu system account yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengakses dan mengeksekusi semua file, command dan system pada sistem operasi berbasis linux (android juga termasuk). Istilah kerennya hacking sistem Android supaya Smartphone kita punya akses ke account root tersebut. Dan cara root android yang saya share disini sangatlah mudah.
Cara Mudah Rooting Android semua type
Fungsi Utama root Android adalah untuk memberi hak penuh ke sistem Android. Jadi dengan melakukan Root, pengguna dapat menambah, mengurangi maupun memodifikasi file-file atau data-data yang terletak pada sistem asli bawaan Android, dan juga Anda bisa menambah aplikasi crack yang sudah tersebar di Dunia Maya, gak usah jauh-jauh disini juga ada » Kumpulan Aplikasi Andoid «.
Masih bingung?? jadi prinsipnya hampir sama KAYAK system Windows, kita bisa hapus atau memodifikasi kalau kita login sebagai Administrator. Udah dong bingungnya ntar gak selesai-selesai tutor’nya. :o
Lalu bagaimana cara rooting Android dengan mudah?? “Sebenarnya ada aplikasi yang bisa me-Rooting hampir semua system android” oke langsung aja ke tutorialnya. Oh ya perlu anda ketahui, semua ini ada resikonya gan, tapi minim banget, dan jika anda me-Rooting smartphone anda berarti garansi yang berlaku akan hilang.
Cara Root Android Semua Type
Untuk melakukan Rooting semua type Smartphone android kali ini saya menggunakan software UnlockRoot Pro 4.1 Full + Serial Number. Software ini sudah support untuk android versi 2.2-2.3, 4.0-4.1, Samsung Galaxy S3, Galaxy Note 2, Google Nexus, dan hampir semua smartphone berbasis Android. Pengoprasiannya pun cukup gampang, tinggal anda download, instal, dan jalankan.
Cara Mudah me-ROOTING Android !! (Semua Tipe)
System Requirements :
OS:Windows XP/Vista/7/8 (32 dan 64 bit)
cara gunakan UnlockRoot
Langkah-langkah melakukan Rooting
1. Download UnlockRoot Pro 4.1 Full + Serial Number » DI SINI «
Atau Klik Gambar Di bawah ini!!
Cara Root Android Semua Type
2. Selesai Download maka Instal aplikasi ini ke Perangkat Komputer atau laptop anda.
3. Jalankan dan masukkan Serial Number yang ada pada Folder Download’an tadi.
4. Lalu setting Smartphone anda dengan cara masuk Setting/Pengaturan » Aplikasi » Development/Pengembangan » centang “Mode USB debugging”
5. Tancapkan Smartphone anda ke Komputer, dan jika sudah terbaca oleh aplikasi UnlockRoot maka tinggal Klik tombol “ROOT”
6. Tunggu hingga proses selesai, dan jika selesai maka Smartphone anda secara otomatis akan restart, dan cara root android ini pun telah SELESAI.
Cara Mudah me-ROOTING Android !! (Semua Tipe)
(Visited 92.028 time, 765 visit today)
Lihat Artikel Lainnya..!!
Tips Menghemat Baterai untuk Android KitKatTips Menghemat Baterai untuk Android KitKat Penggunaan aplikasi yang berlebihan dan aktif dengan internet tentu membuat smartphone […]
Tips Hemat Baterai BlackberryTips Hemat Baterai Blackberry Tips Hemat Baterai Blackberry Anda tentu tidak akan selamanya melihat ke layar […]
Cara Flashing Samsung Galaxy YoungCara Flashing Samsung Galaxy Young Ini dia cara flash Samsung Galaxy young dengan cara yang mudah. Biasanya kita lakukan […]
Aplikasi File Manager “ES File Explorer”Aplikasi File Manager “ES File Explorer” ES ,aplikasi file manager ini sudah didownload 180 juta lebih pengguna Android. Dinilai […]
Angry Bird Star Wars IIAngry Bird Star Wars II Angry Birds Star Wars II play.google.com.premium Jadi Pasukan terkuat dengan yang […]
Cara Upgrade Samsung Galaxy Y ke Android Kitkat 4.4Cara Upgrade Samsung Galaxy Y ke Android Kitkat 4.4 Buat anda yang punya galaxy young pasti penasaran gimana cara upgrade Galaxy Y ke […]
UC-WEB Aplikasi Browser Paling CepatUC-WEB Aplikasi Browser Paling Cepat Internet masih lelet..!! jangan biarkan anda menderita terlalu lama, saya […]
Aplikasi Android Volume Booster (Gratis!!)Aplikasi Android Volume Booster (Gratis!!) Volume Booster adalah aplikasi android terbaik dan termudah untuk mengontrol semua […]
Cara Rooting Samsung Galaxy S2 GT-I9100Cara Rooting Samsung Galaxy S2 GT-I9100 Hallo HandPhoneInfo mania, kali saya akan men-share cara Rooting Samsung Galaxy S2 […]
Cara Hack khusus Nokia BelleCara Hack khusus Nokia Belle Seperti biasa penyakit lama nokia adalah masalah install unsigned Apps, penyakit ini […]
FILED UNDER: ANDROID, TIPS & TRICK · TAGGED WITH: CARA MUDAH ROOTING ANDROID, CARA ROOT ANDROID, CARA ROOTING ANDROID
Senin, 27 Oktober 2014
Pasang Blogger Contact Form di Halaman Statis dan Kostumisasi Dasarnya
Sudah cukup lama sejak Blogger resmi merilis Contact Form untuk pengguna platform Blogger. Fitur ini berupa widget/gadget. Sayangnya, widget ini jarang nongol di blog-blog pengguna Blogger. Sebagian besar masih mengandalkan layanan contact form gratis yang tersedia di jagat web. Mungkin karena fitur-fiturnya lebih canggih, dan, yang pasti, banyak yang tidak ingin menyediakan contact form dalam bentuk widget; tampak kurang elegan dan khusus.
Nah dalam kesempatan ini, saya ingin memberikan sedikit trik agar widget Contact Form Blogger yang secara default ada di bagian widget sidebar atau footerbar bisa dipindah dan dijadikan konten halaman statis (static page). Saya akan memberikan basicnya terlebih dahulu. Ke depan saya akan memberikan beberapa hack untuk mendesain tampilan contact form tersebut lebih jauh lagi.
Karena ini saya maksudkan sebagai tutorial non-instan, maka akan saya beberkan beberapa poin penting dari elemen contact form Blogger hingga bagaimana melakukan kostumisasi dasar dan meletakkannya di halaman statis blog.
The Basic of Blogger Contact Form
Melalui fitur "view source" atau "page source" pada browser, kita dapat melihat bagaimana susunan HTML pada widget contact form Blogger. Susunan HTML-nya cukup sederhana, berupa beberapa elemen input di dalam form dan dinaungi oleh div, berbeda dengan contact form pada umumnya yang dinaungi oleh elemen-elemen tabel.
Begitulah elemen dasarnya. Proses generating input di dalam contact form Blogger hingga sampai pada email tidak bisa diketahui secara pasti karena semua langsung terjadi di server Blogger. Seperti pada umumnya, karena bukan open source, kita tidak bisa tahu persis bagaimana engine Blogger bekerja. Yang jelas, pesan akan diteruskan ke email sesuai akun blog. Satu yang pasti, anda harus register (mengaktifkan/menggunakan) widget contact form terlebih dahulu meski nantinya akan melakukan hack dan menampilkannya di halaman statis, bukan di widget. Tanpa register, contact form tidak akan aktif.
Proses yang akan dilakukan adalah:
A. Memasang Widget Contact Form
B. Menghapus Elemen Contact Form Di Widget Sidebar
C. Kostumisasi Sederhana Pada Contact Form
D. Memasang Contact Form di Halaman Statis
Cara Memasang Widget Contact Form
1. Masuk ke dashboard > layout > add a gadget
2. Pilih Widget/Gadget Contact Form dan save/simpan.
3. Done.
Menghapus Elemen Contact Form di Widget Sidebar
Setelah anda memasang Contact Form, maka widget akan ditampilkan pada sidebar atau pada footer bar sesuai pilihan dan template anda. Kita harus menghapusnya agar nantinya Contact Form hanya bisa diakses melalui halaman Kontak saja. Mengapa dihapus? Mengapa tidak disembunyikan saja? Beberapa tutorial yang berkaitan dengan hack blogger seringkali saya temui menggunakan metode menyembunyikan widget (dengan conditional tag). Cara ini menurut saya kurang efektif, karena widget contact form tidak akan ditampilkan di halaman mana saja, sehingga cara terbaik adalah dengan menghapus elemennya, bukan menyembunyikan/mengecualikan saja. Ingat yang dihapus hanya elemennya, bukan keseluruhan widget, karena kita tetap ingin mempertahankan register contact form aktif.
1. Buka dashboard > Template > Edit HTML.
2. Kemudian cari bagian kode widget contact form yang sudah dipasang sebelumnya dengan menggunakan fitur "Jump to Widget". Perhatikan gambar berikut:
3. Klik "ContactForm1" untuk menuju ke bagian widget tersebut, kemudian klik tanda panah di sebelah kiri kode widget (expand) untuk membuka isi widget tersebut, sebagaimana ditampilkan pada gambar berikut:
4. Widget akan terbentang, dan sekali lagi klik tanda panah di sebelah kiri bagian antara dan . Sekali lagi widget akan terbentang lebih rinci, hapus bagian di dalam/di antara kedua tag b:includable tersebut. Perhatikan gambar berikut:
5. Perhatikan kode yang dihapus dengan benar, setelah dipastikan, save template.
Kostumisasi Sederhana Pada Contact Form
Susunan html contact form bawaan blogger secara default sangat sederhana, lihat di sini. Tanpa kostumisasi, kode itu pun sudah siap digunakan. Untuk melakukan beberapa kostumisasi tambahan, saya memberikan beberapa ide sederhana dan masih sangat mendasar, untuk hack CSS dalam beberapa desain menarik dan personal, akan saya ulasan pada kesempatan-kesempatan berikutnya.
Kostumisasi pertama yang saya lakukan adalah mengubah informasi perintah seperti "Name", "Email" yang secara default berada di atas kotak input menjadi di dalam kotak dan akan terhapus secara otomatis saat di klik. Untuk memungkinkan ini, saya mengisi value sesuai dengan teks yang ingin ditampilkan dan menggunakan javascript sederhana onblur dan onfocus. Ex:
Kostumisasi kedua adalah menambahkan elemen input button sebagai perintah reset/clear yang berfungsi menghapus seluruh isi input pada form kontak. Yaitu:
Ketiga, saya menambahkan styling CSS dalam tag tersendiri terutama untuk mengubah lebar form agar bisa disesuaikan dengan lebar halaman post, sebab secara default contact form blogger sangat sempit.
Keempat, mengubah elemen yang menaungin informasi bahwa pesan berhasil dikirim dari tag paragraf (p) menjadi division (div) Sebab jika ditampilkan dalam tag paragraf, background berwarna oranye akan tampil di bagian tersebut meski informasi tidak dimunculkan.
Dan berikut hasil totalnya:
demo blogger contact form
1. Copy seluruh kode di atas dan pindahkan ke dalam text editor sederhana, misalnya notepad.
2. Lakukan kostumisasi di awal (atau di belakang juga boleh, hehe) untuk menyesuaikan beberapa elemen agar sesuai dengan halaman statis anda nantinya.
Berikut beberapa poinnya:
Teks yang berwarna merah adalah informasi input yang nanti muncul pada input form dan button, ubah sesuai keinginan.
Ubah nilai di dalam rows='10' untuk menambah/mengurangi tinggi kolom pesan.
Ubah nilai di dalam max-width: 250px (dua bagian) untuk menyesuaikan lebar "informasi pengiriman pesan" dan lebar form "nama" dan "email".
Ubah nilai di dalam max-width: 450px untuk menyesuaikan lebar form pesan.
3. Pastikan kostumisasi sudah betul dan simpan dengan baik.
Memasang Contact Form di Halaman Statis
1. Buat halaman statis, dashboard > pages > new page > blank page.
2. Setelah masuk ke halaman post editor, isi judul halaman sesuai keinginan, misalnya "Contact Me", "Contact Us", "Kontak Kami", dll. Lalu pilih mode "HTML" dan masukkan kode yang sudah dikostumisasi ke dalam editor.
Catatan penting:
Setelah memasukkan kode hingga proses menerbitkan/publish halaman, jangan sekalipun mengembalikan editor ke mode "Compose", sebab mode compose secara otomatis akan parse beberapa jenis kode dan merusak susunannya. Jika ingin preview, gunakan fitur "Preview/Pratinjau".
3. Setelah proses edit dan kostumisasi contact form beres, "Publish" halaman tersebut.
4. Done!
--------------
Memang, sebagaimana banyak yang bilang, Blogger Contact Form memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah ketiadaan fitur captcha, field yang sedikit, tidak dapat upload file, dan tidak bisa dikostumisasi dari sisi server (ga ada akses, coy). Tapi menurut saya ini tetap bagus, yah lumayan lah, daripada harus menggunakan layanan contact form pihak ketiga yang memiliki batas. Dan menurut hemat saya, Blogger (dan Google tentunya) sudah memiliki cara tersendiri untuk menangani spam.
Untuk kostumisasi yang lebih advanced, saya sedang merancang beberapa jenis tampilan contact form dengan hack CSS yang nantinya akan saya terbitkan pada kesempatan-kesempatan mendatang.
*wajib diisi
Kamis, 16 Oktober 2014
Pengertian Dan Manfaat Keterampilan Berbahasa
Pengertian Dan Manfaat Keterampilan Berbahasa
Posted by Rendy Putra Valkyrie, Oktober 10, 2014 0 comments
PENGERTIAN DAN MANFAAT KETERAMPILAN BERBAHASA
Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita miliki,meskipun setiap orang memiliki tingkatan atau kualitas yang berbeda. Orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal setiap tujuan komunikasinya dapat dengan mudah tercapai. Sedangkan bagi orang yang memiliki tingkatan keterampilan berbahasa yang sangat lemah,sehingga bukan tujauannyayangtercapai tetapi kemungkinan terjadi kesalah pahaman yang hanya akan membuat suasana mejadi tidak diharapkan.
Keterampilan berbahasa sangat kompleksdanluas. Bila kita cermati lebih jauh hampir setiap bidang kehidupan manusia tidak pernah luput dari aspek kebahasaan. Memang, dalam hubungannya dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, setiap bidang kehidupan tidak pernah lepas dari peranan bahasa ini. Bahasa harus komunikatif. Ini berarti mudah dipahami oleh pemakai bahasa sebagai pemberidanpenerima pesan.
Penyajian materi ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa keterampilan berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian akademikdanreferensi-referensi ilmiah lainnya, untuk memudahkan pengkajiannya maka ruang lingkupnya dikelompokkan ke dalam empat aspek, yakni:
·
Keterampilan menyimak
·
keterampilan berbicara
·
keterampilan menulis
·
keterampilan membaca
Mari perhatikan kehidupan masyarakat. Anggota-anggota masyarakat saling berhubungan dengan cara berkomunikasi. Komunikasi dapat berupa komunikasi satu arah, dua arah,danmulti arah. Komunikasi satu arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan kepada orang lain, sedangkan penerima pesan tidak menanggapi isi pesan tersebut. Misalnya, khotbah jumatdanberita di TV atau radio. Komunikasi dua arah terjadi ketika
pemberi pesandanpenerima pesan saling menanggapi isi pesan. Komunikasi multi arah terjadi ketika pemberi pesandanpenerima pesanyangjumlahnya lebih dari dua orang saling menanggapi isi pesan (Abd. Gofur, 1: 2009)
Dalam kegiatan komunikasi, pengirim pesan aktif mengirim pesanyangdiformulasikan dalam lambang-lambang berupa bunyi atau tulisan. Proses ini disebut dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang tersebut menjadi bermakna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses ini disebut dengan decoding.
LisanTulisan
ReseptifMenyimakMembaca
ProduktifBerbicaraMenulis
· Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Reseptif ( menerima ) :
a. Menyimak
b. Membaca
·
Aspek Keterampilan Berbahasa bersifat Produktif ( menghasilkan ) :
a. Berbicara
b. Menulis
1.
KETERAMPILAN MENYIMAK
Keterampilan menyimak merupakan kegiatanyangpaling awal dilakukan oleh manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Dalam kehidupan sehari- hari, kegiatan menyimak ini menyita hampir 45% waktu berkomunikasi kita. Hal ini pernah dikemukakan oleh Rankin ( 1929) dalam surveyyangdilakukan mengenai penggunaan waktu untuk ke empat keterampilan berbahasa terhadap 68 orang dari berbagai pekerjaandanjabatan. Selama kira- kira 2 bulan, ke 68 orang tersebut diamati setiap 15 menit dari hari jaganya. Hasil menunjukkan
:
1. Menulis 9 %
2. Membaca 16 %
3. Berbicara 30%
4. Menyimak 45%
Secara berturut-turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca,danmenulis. Kegiatan menyimak diawali dengan mendengarkan,danpada akhirnya memahami apayangdisimak. Untuk memahami isibahansimakandiperlukan suatu proses berikut; mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi atau menafsirkan, memahami, menilai,danyangterakhir menanggapi apayangdisimak.
mendengarkan yaitu masuknya informasi atau ujaran ke telinga, lalu tahap memahami yaitu kemudian masuk ke otak informasi tersebut dipahami makna secara sempit, lalu tahap menginterpretasi yaitu menafsirkan ujaran secara keseluruhan, dilanjutkan dengan tahap mengevaluasi yaitu menilai informasi tersebut berdasarkan benar atau salah,danterakhir tahap menanggapi yaitu respon berupa reaksi seperti ucapan selamatdanlain-lain. Contohnya ketika orang mendengar seseorangyangmengatakan bahwa sanak keluarganya telah meninggal karena terkena musibah banjir bandang, maka orangyangmendengarkan akan mengerti makna dari ucapan-ucapannyadanmaksudnya, lalu akan timbul rasa simpati sehingga dia mengucapkan “aku turut berduka cita atas peristiwa tersebut”
Oleh karena itu menyimak dapat diartikanproses besar mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi,daninterpretasi untuk mendapatkan informasi, memahami isi pesandanmemahami ujaranyangdisampaikan oleh sang pembicara.
Proses pembelajaran dalam menyimak sendiri memerlukan perhatianyangserius, banyak orang mendefinisikan jika menyimak hampir sama artinya dengan mendengar. Namun pada kenyataannya kegiatan tersebut, sangatlah jauh berbeda. Menurut pendapat Tarigan ( 1994 : 27 ) , “ Pada kegiatan mendengar mungkin si pendengar tidak memahami apayangdidengar. Pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi belum diikuti unsur pemahaman karena itu belum menjadi tujuan. Dari definisi Tarigan di atas saja, sudah terlihat bahwa tingkat konsentrasi tinggi seseorang sangatlah dibutuhkan dalam proses menyimak.
suasanamenyimak
·
bersifatdefensive(bertahan) yaitu bertahan dari ujaran-ujaran sang pembicara, yaitu:
a. evaluatif: ujaran pembicarayangmemancing penilaian dari penyimak,contoh”saya akan menunjukan kepada anda, apakah anda orangyangpintar atau tidak, orangyangsudah mengerti atau belum, orangyangcukup cerdas atau tidak”
b. mengawasi: ujaranyangmembuat si penyimak mengontrol benar atau tidaknya ujaranyangdisampaikan. Contohnya, teman-teman saya ini adalah orangyangcerdas, berpengalaman luas, baik hati, jujur, tidak mementingkan kepentingan pribadi,danmempunyai jiwa kpemimpinanyangtinggi, sehingga sepantasnya anda memilih saya menjadi ketua BEM di universitas ini, karena saya akan beriusahadanpasti bisa memajukan universitas ini”
c. strategis: ujaran pembicarayangmembuat pendengar memasang kuda-kuda/pertahanan/siasatyangstrategis.Contoh: saudara-saudara sudah lama saya memikirkan bagaimana caranya agar saudara-saudara semua dapat mengatasi musibah ini dengan carayangsaya lakukan. Sudah tidak ada keraguan lagi carayangsaya lakukan. Oleh sebab itu ikutilah carayangsaya lakukan ini, agar saudara mendapat manfaatdankeuntungan terhindar dari musibah banjir lagi, jangan ragudansangsi lagi, yakinlah untuk mengikuti cara saya.
d. Superior: ujaran pembicara mencerminkan rasa tinggi hati, merasa lebih unggul dari orang lain dalam segala hal.Contoh: kamu harus tau, harus sadar, bahwa kamu tidak ada apa-apanya disbanding aku. Lihat saja akuorang kaya banyak harta sedangkan kamu miskin tidak punya apa-apa, aku selalu berpakaian mahaldankeren sedangkan baju kamu murahdanjelek, lihat wajahmu yang jelek itu sedangkan wajah saya ganteng luar biasa, terus aku selalu dihormatidandisegani orang sedangkan kamu hina sekali. Apakah kamu tidak sadar akan itu semua? Kaudanaku ini bagai langitdanbumi.
e. Netral: ujaran pembicara bersifat netral, tidak memihak golongan atau pihak tertentu.Contoh: saudara-saudara saya tidak pernah memperhatikan msalah mereka, karena bagi saya masalah saya sendiri saja sudah cukup jadi tidak perlu lah mengurusi masalah orang lain.
f. Pastidantentu: ujaran pembicara membuat penyimak harus memilih salah satu alas anyangtepat atau pasti.Contoh: kamu harus berikan jawabannya sekarang dengan tegasdanjelas! Kamu pilih akau atau dia? Cepat jawab!
·
Bersifat suportif: mendukung atau menunjang
a. Deskripsi: ujaran pembicara mendeskripsikan lebih banyak&menginginkan pendengar mengetahui lebih banyak.Contoh: tolong sampaikan kepada saya, kemajuan-kemajuan apalagiyangsudah dicapai sekolah ini: dalam bidang prstasi ekskulnya, prestasi belajarnya, sarana-prasarananya,danbidang ketenagaannya. Saya yakin anda dapat memberikan data-data tersebut, karena anda lebih tahu mengenai hal itu.
b. Orientasi: ujaran pembicara berorientasi terhadap suatau permasalahan&meminta pendengar untuk mengungkapkannya.Contoh: tadi telah saya kemukakan tentang berbagai kemajuan sekolah ini. Sekarang tolong katakana kepada saya menurut anda masalah apa sajayangada baik dalam bidang prestasi ekskul, prestasi belajar, sarana-prasarana,danbidang ketenagaan. Siapa tau msalah itu bisa dipecahkan bersama,danyangtidak akan saya usahakan penjelsannya.
c. Spontanitas: ujaran pembicara bersifat spontanitas/langsung. Hal ini membuat penyimak mudah menangkap isi pembicaraan. Saudara-saudara dewan guru tadi telah saya kemukakan mengenai kesejahteraan guru. Sekarang apayangdapat kita lakukan mengenai kesejahteraan itu, khususnya mengenai kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar sesuai kondisidankeadaan serta maslah pemutusan/perpanjangan kontrak! Mari kita pikirkan bersama hal ini. Karena tanpa dewan guruyangsejahtera mustahil sekolah ini bisa maju.
d. Empati: ujaran pembicara mencerminkan ketegasan terhadap sesuatu hal.Contoh: kita tidak mau dihina, dicaci, serta dimaki tanpa alasanyangbenar. Kita pasti marah karena ini benar-benar penghinaan besar, dianggap rendah tak bisa apa-apa! Sungguh keji perbuatan mereka itu bukan? Kta tidak mau diperlakukan seperti ini, karena kita makhluk Tuhanyangpunya kedudukan sama di hadapanNya.
e. Ekualitas atau kesetaraan: ujaran pembicara mencerminkan persamaan hak antar sesama.Contoh: saudara-saudara mari kita pikirkan bersama, apayangdapat kita lakukan untuk meningkatkan mutu kwalitas pendidikan di sekolah kita ini.
f. Profesionalisme: ujaran pembicara mencerminkan rasa ketepaandankejelasan suatu hal.Contoh: melihat kemunduran prestasi belajarnya, maka carayangterbaik adalah dengan memberikannya gratis bayaran sekolah! Masalah prestasinya jangan kawatir lagi, semester berikutnya pasti belajardanprestasinya akan kembali meningkat.
Menyimak memiliki jenis-jenis sebagai berikut:
Pengklarifikasian menyimak berdasarkan:
a. Sumber suara
b. Cara penyimakbahanyangdisimak
c. Tujuan menyimak
d. Taraf aktivitas penyimak
Berdasarkan sumber suarayangdisimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi
2) Interpersonal listening atau penyimak antar pribadi
Berdasarkan pada cara penyimakanbahanyangdisimak, dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Menyimak ekstensif (extensive listening)
Menyimak ekstensif ialah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian, ketentuan, dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruh secara garis besarnya saja.
Menyimak ekstensif meliputi
a) Menyimak sosial
b) Menyimak sekunder
c) Menyimak estetik
2) Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuandan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam.
Menyimak intensif meliputi:
a) Menyimak kritis
b) Menyimak introgatif
c) Menyimak penyelidikan
d) Menyimak kreatif
e) Menyimak konsentratif
f) Menyimak selektif
Tujuan menyimak berdasarkan Tidyman&butterfield membedakan menyimak menjadi:
a) Menyimak sederhana
b) Menyimak diskriminatif
c) Menyimak santai
d) Menyimak informatif
e) Menyimak literatur
f) Menyimak kritis
Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:
a) Kegiatan menyimak bertarap rendah
b) Kegiatan menyimak bertaraf tinggi
FaktorYangMempengaruhi Keberhasilan Menyimak
1. Unsur Pembicara
Pembicara haruslah menguasai materi, penuh percaya diri, berbicara sistematisdan kontak dengan penyimak juga harus bergaya menarik / bervariasi
2. Unsur Materi
Unsuryangdiberikan haruslah actual, bermanfaat, sistematisdanseimbang
3. Unsur Penyimak/Siswa
a. Kondisi siswa dalam keadaan baik
b. Siswa harus berkonsentrasi
c. Adanya minat siswa dalam menyimak
d. Penyimak harus berpengalaman luas
4. Unsur Situasi
a. Waktu penyimakan
b. Saran unsur pendukung
c.Suasanalingkungan
Gangguan-gangguan menyimak:
1) dari dalam: berupa fikiran-fikiran dari si penyimak sendiri, Keegosentrisan, Keengganan ikut terlibat, Ketakutan akan perubahan, Keinginan menghindari pertanyaan, Puas terhadap penampilan eksternal, Pertimbanganyangpremature, Kebingungan semantik.
2) dari luar: karena hujan, berisik, suara mobil, dll. Cara pencegahannya adlah konsentrasilah pada ujaran-ujaran sang pembicara agar butir-butir pesan dapat ditangkap, dicerna,dandipahami.
Tujuan atau fungsi menyimak:
a. Untuk belajar,contohsaat belajar di kelas, seminar, kuliah, dll
b. Untuk menikmati keindahan audial,contohmendengarkan lagu di aradio, suara burung, suara qori, dll
c. Untuk mengevaluasi,contohdipersidangan, diskusi, dll
d. Untuk mengapresiasi, yaitu menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apayangdisimaknya itu.contohsetelah membaca novel timbul rasa suka pada penulisnya, pembacaan puisi, cerita, musikdanlagu.
e. Untuk mengkomunikasikan ide-ide,contohdiskusi
f. Untuk membedakan bunyi-bunyi dgn tepat,contohsaat mengajar membaca Al-quran
g. Untuk memecahkan masalah,contohberbicara dengan psikolog, guru agama.
h. Untuk meyakinkan, untuk meyakinkan diri sendiri.
Menyimak tidak hanya pada ujaran tetapi juga pada gerakan, penglihatan,danperasaan juga termasuk menyimak. Menyimak ini yaitu dengan mencari petunjuk-petunjuk non verbal seperti gaya, mimic, gerak-gerik,dangerakan pembicara merupakan bagainyangvital dari pesannya. Bersiap-siap pada tanda non verbal ini akan mambantu memahami bagaimana gagsan itu terasa bagi pembicara. Akan membatu juga menilai ketulusan hari, kejujuran, pendirian,danintegritas umum pembicarayangmungkin saja mempunyai kepentingan khusus dalam menyimak kritis. Contohnya dalam debat, atau dipersidangan.
2.
KETERAMPILAN MEMBACA
Membaca adalah proses pemahaman terhadap lambang-lambang tulisan
yangdiungkapkan penulis melalui sebuah bacaan. Membaca merupakan salah satu kegiatan untuk mendapatkan informasi. Pada umumnya membaca bertujuan memahami isi wacana atau bacaan. Pada awalnya membaca merupakan proses sensoris. Isyaratdanrangsangan aktivitas membaca masuk melalui indra penglihatan, atau rabaan tangan untuk tunanetra. Penglihatan adalah alat untuk menyerap informasi tulisdanmeneruskannya ke otak. Kemudian otak mengolah informasi tersebut. Oleh karena itu, betapa pun cerdasdansiapnya seseorang, tatkala ada gangguan pada kedua inderanya itu, dia akan kesulitan untuk mengenali tulisandanmemahami maknanya. Kemampuan sensoris ini merupakan prasarat awal untuk dapat mendeteksi huruf atau rangkaian huruf, tanda baca,danberbagai lambang tulis lainnya.
Lambang tulis itu memberikan rangsangan kepada pembaca untuk menanggapinya dengan maknayangberada di balik symbol-simbol tulis tersebut. Namun demikian, pemaknaan itu tidak semata-mata diperoleh dari lambing itu. Pembaca memaknai lambang tulis itu ketika melakukan aktivitas baca berdasarkan pengetahuannya tentang bahasa tulis, latar
belakang budaya, kematangandankepribadiannya. Oleh karena itu tidak heran jika prosesdanhasil baca tulisan dapat berbeda satu sama lain.
Sebenarnya kegiatan membaca ini biasa juga disebut sebagai tindakan aktif karena pembaca aktif membangun makna, menerima, menolak, membandingkan,danmeyakini isi informasi dalam tulisan.
Hakikat Membaca
Ada sebuah pepatah lamayangmengatakan, “Buku adalah Gudang Ilmu”. Untuk mengakses atau memasuki gudang ilmu itu kita memerlukan sebuah kunci. Membaca inilahyangmerupakan kunci untuk membuka gudang ilmu pengetahuanyangakan kita serap.
Seorang filsuf dari Cina Lin Yut ‘Ang mengatakan bahwa seorangyangtidak memiliki kebiasaan membaca ia akan terpenjara dari segi ruangdanwaktu.
Ia hanya akan mengetahui apayangada di sekitar dirinya. Danorang tersebut juga tidak akan mampu mengakses informasi-informasi masa silam serta prediksi-prediksi masa depan.
Sebaliknya orangyangmemiliki kebiasaan membaca akan dapat berkomunikasi dengan pemikir-pemikir besar dunia, yangbahkan berasal dari dimensi waktudanruangyangjauh berbeda. Dengan membaca kita bisa menggaul-akrabi pemikiran-pemikiran Socrates, Aristoteles, Albert Kasmus,danbahkan Plato.
Hakekat kegiatan membaca adalah pemahaman. Teknik apapunyangdianjurkan oleh para pakar linguis, pada akhirnya kita sebagai pelaku kegiatan membaca dituntut untuk bisa memahami isi bacaanyangkita baca. Membaca tanpa pemahaman adalah sia-sia.
Membaca ada dua tingkatan:
a. Membaca Tingkat Dasar
Kemampuan menyuarakan lambing-lambang tulisanyangdisampaikan penulisnya.
b. Membaca Tingkat Lanjut
Kemampuan memahami lambing-lambang tulisanyangdiungkapkan penulisnya melalui sebuah bacaan.
Jenis-jenis membaca ini antara lain:
Ditinjau dari terdengar atau tidaknya suara sewaktu membaca, makna proses membaca dapat dibagi sebagai berikut:
1. Membaca nyaring
Membaca nyaring adalah cara membaca dengan bersuara atau cara membacayangdilakukan dengan lisan.
2. Membaca dalam hati (silent reading)
Membaca dalam hati adalah cara membacayangdilakukan dengan tidak dikeraskan,yanghanya menggunakan kegiatan visual.
Pada saat membaca dalam hati, perlu diperhatikan:
1. Mata kita gunakan untuk melihatdanmenyapu halaman-halaman bacaan dengan cepat.
2. Ingatan berperan sebagai penyimpanandanpenyaring isi bacaanyangkita tangkap lewat mata.
Berdasarkan tujuannya, membaca diklasifikasikan sebagai berikut:
Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif merupakan cara membacayangdilakukan terhadap sebanyak-banyaknya teks dalam waktuyangsesingkat-singkatnya.
Tujuan membaca ekstensif adalah
a. Untuk memperoleh pemahaman umum, atau
b. Untuk menemukan hal tertentu dari suatu teks.
Secara umum membaca ekstensif dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
a. Mensurvey halaman judul, kata pengantar, daftar isi,danindeks.
b. Men-skim halaman demi halaman teks dengan cepat Untuk menemukan gagasan pokok dari halaman-halaman teks itu atau
c. Melirik setiap halaman teks hanya untuk menemukan kata atau keterangan tertentuyangdiinginkan.
Membaca Intensif
Membaca intensif merupakan cara membacayangdilakukan secara seksama terhadap rincian-rincian suatu teks atau bacaan.
Berdasarkan tingkat kecepatannya, membaca terbagi ke dalam beberapa jenis.
Membaca reguler
Membaca reguler adalah cara membaca dengan kecepatan relatif lambat. Cara ini dilakukan dengan membaca baris demi baris.
Membaca sekilas
Membaca sekilas dilakukan melihat secara sekilas bagian-bagian teks, terutama judul, daftar isi, kata pengantar, atau hal-hal umum lainnya.
Membaca cepat (skimming)
Membaca cepat dilakukan dengan lebih cepat. Pandangan mata langsung meluncur, menyapu halaman-halaman teks. Teknik ini digunakan ketika membaca surat kabar dengan tujuan untuk,
a. Mencari angka-angka statistik.
b. Melihat acara siaran televisi,dan
c. Melihat daftar perjalanan kereta api
Di samping itu, cara membaca ini tepat juga digunakan ketika: a) mencari nomor telepon, b) mencari kata pada kamus, c) mencari arti pada indeks
Membaca kecepatan tinggi (warp speed)
Adalah cara membaca suatu teks dengan kecepatan tinggi dengan disertai pemahamanyangtinggi pula.
Untuk mengukur kecepatan membaca, seorang pembaca harus mencocokkan tabel berikut ini.
WaktuKecepatan Membaca (Kata/Menit)
1 menit 00 detik
1 menit 10 detik
1 menit 20 detik
1 menit 30 detik
1 menit 40 detik
2 menit 00 detik
2 menit 10 detik
2 menit 20 detik
2 menit 30 detik
2 menit 40 detik
2 menit 50 detik
3 menit 00 detik
3 menit 10 detik
3 menit 20 detik
3 menit 30 detik
3 menit 40 detik
3 menit 50 detik
4 menit 00 detik
589
505
442
382
321
295
272
252
236
221
208
196
186
177
168
161
153
147
FaktorYang Mempengaruhi Keberhasilan Membaca
1. Kadang kita terjebak dalam penilaian diri sendiri saat membaca. Rasanya memahamiyangAnda baca, tetapi ketika harus mengungkapkan kembali ternyata masih banyak
yangbelum paham dan bahkan terlupakan.
2. Sebenarnya beberapa wancana tidaklah terlalu sukar. Karenanya, waktu tempuh baca Anda seharusnya tidak terlalu lama.
3. Kalau Anda membaca tanpa tujuan, bi`sanya perhatian terhadap bacaan kurang terfokus.
Keadaan ini membuat kita kesulitan menangkap ide-ide penting bacaan.
4. Kalau Anda membaca teks, huruf demi huruf, kata demi kata, atau kalimat demi kalimat, ditambah lagi sewaktu membaca mulut Anda bersuara atau bergumam, bibir bergerak-gerak, atau kepala bergerak ke kiridanke kanan, maka kemungkinan Anda akan menghabiskan banyak waktu dalam menyelesaikan bacaan. Dengan demikian Anda dapat dikategorikan sebagai pembacayanglambat.
5. Kesulitan lain dapat muncul dalam hal konsentrasi, membaca balik bagian-bagianyangsemestinya sudah dibaca, sukar menangkap gagasan utama, kesulitan mengingat bagian-bagian pentingyangtelah dibaca,dansebagainya.
3.
KETERAMPILAN BERBICARA
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengekspresikan pikiran atau ide melalui lambang-lambang bunyi. Seorang pembicarayanghandaldanterlatih mampu memilih kata-katayangefektif,dan
gaya yangtepat sehingga mudah dipahamidanbahkan dapat memukau pendengarnya.
Seorang ahli pidato (orator) tentulahcontohdari pembicarayanghandal. Presiden kitayangpertama, Bapak Soekarno merupakancontohpembicara (orator)yanghandal. Melalui pilihan kata-katanya, gaya bicaranya, alunan olah vokalnya, sehingga mampu memukau pendengarnya untuk tetap menantinya sampai ucapan kata-kata terakhirnya.
Lain halnya bilayangkita dengar dari pembicarayangmiskin gaya bahasa, pilihan katanyayangmonoton, kurang wawasan,dantidak focus, tentulah pendengar cenderung bosan untuk mengapresiasi pembicaraannya.
Keterampilan berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Pembicarayangbaik mampu memberikancontohagar dapat ditiru oleh penyimakyangbaik. Pembicarayangbaik mampu memudahkan penyimak untuk menangkap pembicaraanyangdisampaikan.
Manusia adalah mahluk sosial. Manusia baru akan menjadi manusia bila ia hidup dalam lingkungan manusia. Kesadaran betapa pentingnya berbicara dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat dapat mewujudkan bermacam aneka bentuk. Lingkungan terkecil adalah keluarga, dapat pula dalam bentuk lain seperti perkumpulan sosial, agama, kesenian, olah raga,dansebagainya.
Setiap manusia dituntut terampil berkomunikasi, terampil menyatakan pikiran, gagasan, ide,danperasaan. Terampil menangkap informasi-informasiyangdidapat,danterampil pula menyampaikan informasi-informasiyangditerimanya.
Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatanyangmenuntut keterampilan berbicara. Contohnya dalam lingkungan keluarga, dialog selalu terjadi, antara ayahdanibu, orang tuadananak,danantara anak-anak itu sendiri.
Di luar lingkungan keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetangga dengan tetangga, antar teman sepermainan, rekan kerja, teman perkuliahandansebagainya. Terjadi pula pembicaraan di pasar, di swalayan, di pertemuan-pertemuan, bahkan terkadang terjadi adu argumentasi dalam suatu forum. Semua situasi tersebut menuntut agar kita mampu terampil berbicara.
Berbicara berperan penting dalam pendidikan keluarga. Tata krama dalam pergaulan diajarkan secara lisan. Adat kebiasaan, norma-normayangberlaku juga seringkali diajarkan secara lisan. Hal ini berlaku dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.
Macam-Macam Kegiatan Berbicara Di Depan Umum
Berdasarkan lingkup situasinya ada dua macam kegiatan berbicara di depan umum, yakni:
a.
Lingkup Resmi: adalah lingkup Dinasyangmemiliki kelayakandanformalitas tertentu. Dalam lingkup ini ada aturan tertentuyangrelative lebih ketat, misalnya pakaian, situasi, tema, kosa kata,dan
gaya berbicara dikemas dalam lingkup resmi.
Contoh: Berpidato.
b.
Lingkup NonResmi: adalah lingkup di mana kegiatan berbicara lebih banyak kelonggarannya. Situasinya lebih familier, bahasanya bebas, pakaiannya tidak diatur, demikian pula formatdan
gaya pembicaraannya.
Contoh: Ceramah
Cakupan Berbicara
Berdasarkan kegiatan komunikasi lisan, cakupan kegiatan berbicara sangat luas. Daerah cakupan itu membentang dari komunikasi lisanyangbersifat informal sampai kegiatan komunikasi lisanyangbersifat formal. Semua kegiatan komunikasi lisanyangmelibatkan pembicaradanpendengar termasuk daerah cakupan berbicara.
Daerah cakupan berbicara meliputi kegiatan komunikasi lisan sebagai berikut,
(1)
berceramah,
(2)
berdebat,
(3)
bercakap-cakap,
(4)
berkhotbah,
(5)
bertelepon,
(6)
bercerita,
(7)
berpidato,
(8)
bertukar pikiran,
(9)
bertanya,
(10)
bermain peran,
(11)
berwawancara,
(12)
berdiskusi,
(13)
berkampanye,
(14)
menyampaikan sambutan, selamat, pesan,
(15)
melaporkan,
(16)
menanggapi,
(17)
menyanggah pendapat,
(18)
menolak permintaan, tawaran, ajakan,
(19)
menjawab pertanyan,
(20)
menyatakan sikap,
(21)
menginformasikan,
(22)
membahas,
(23)
melisankan (isi drama, cerpen, puisi, bacaan),
(24)
menguraikan cara membuat sesuatu,
(25)
menawarkan sesuatu,
(26)
meminta maaf,
(27)
memberi petunjuk,
(28)
memperkenalkan diri,
(29)
menyapa,
(30)
mengajak,
(31)
mengundang,
(32)
memperingatkan,
(33)
mengoreksi,
(34)
tanya-jawab.
Hal-HalYangHarus Diperhatikan Oleh Pembicara
Baik penceramah maupun orator (ahli pidato),yangingin sukses dalam kegiatan berbicara harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Internal:
٭ Vokal : 1. tidak monoton,
2. jelas bervariasi,
3. sesuai dengan karakter materi.
٭ Penampilan : 1. menarik simpati pendengar,
2. membina kontak mata dengan pendengar,
3. mimiek, ekspresiyangtidak berlebihan,
4. gerakan anggota tubuhyangsesuai.
٭ Materi : 1. menguasai materi,
2. sesuai dengan tingkat pendengar,
3. penyampaian harus sistematis,
4. disertai dengancontohyang“segar”
b. Eksternal:
٭ Menganalisa Pendengar:
1. Usia pendengar,
2. Tingkat pendidikan pendengar,
3. Gender (kalau perlu),
4. Latar Budaya.
5. Jumlah pendengar
٭ Situasi pembicaraan:
1. Formal atau nonformal,
2. waktu: pagi, siang, sore, malam.
3. Tempat, in door, out door.
Langkah-LangkahYangHarus Dipersiapkan Oleh Pembicara:
Sebelum kegiatan berbicara di depan umum dilaksanakan, ada beberapa pedomanyangharus dipertimbangkan:
1. Tentukan tema pembicaraan,
Tema harus menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, original, kekinian/ tidak usang.
2. Mencaridanmempersiapkan materi / literature pemandu untuk menambah bobot pembicaraan. Jangan pernah membicarakan hal-halyangAnda sendiri tidak memahaminya, karena Anda akan terlihat ‘bodoh’dankurang wawasan.
3. Siapkan drafdankisi-kisi pembicaraan secara sistematis. Ini akan mencerminkan pola pikir Andayangteratur.
4. Susun naskah pembicaraanyanglengkap.
5. Latihanlah dengan cara membacadanberimprovisasi secara berulang-ulang.
6. Mintalah masukan/ pendapat dari teman tentang latihan penampilan Anda.
7. Anda siap menjadi pembicarayang‘handal’.
4.
KETERAMPILAN MENULIS
Kalau kita berbicara masalah sejarahdanpentingnya sebuah tulisan, tentunya kita sepakat bahwa sampai sekarang belum ditemukan secara pasti kapan sebuah tulisan itu ditemukan. Akan tetapi, apabila kita membicarakan masalah pentingnya sebuah tulisan, tentunya kita bisa menjawab sebagaibahanreferensi,bahandokumentasi, sumber ilmu,danmasih banyak lagi. Al-Quran pun masih tetap terjaga keaslihannya sampai saat ini karena adanya tulisan.
Sejarah suatu bangsa, sejarah manusia, sejarah sebuah ilmu pengetahuan, dapat diketahui karena adanya tulisan, meskipun pada saat itu bentukdanmedia tulisan tidak secanggih saat ini. Kita bisa menemukan sejarah suatu bangsa dari tulisan-tulisan pada bebatuan, kulit kayu, maupun daun lontar. Misteri sejarah Mesir Kuno pun terkuak ketika pada tahun 1799, seorang serdadu Perancis menemukan sebuah batu bertulis di dusun Roseta tidak jauh dari muara Sungai Nil.
Menulis merupakan sebuah kegiatan menuangkan pikiran, gagasan,danperasaan seseorangyangdiungkapkan dalam bahasa tulis. Menulis merupakan kegiatan untuk menyatakan pikirandanperasaan dalam bentuk tulisanyangdiharapkan dapat dipahami oleh pembaca dengan berfungsi sebagai alat komunikasi secara tidak langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menulis merupakan kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca. Seorang penulis harus memperhatikan kemampuandankebutuhan pembacanya.
Kegiatan menulis sangat penting dalam pendidikan karena dapat membantu siswa berlatih berpikir, mengungkapkan gagasan,danmemecahkan masalah. Menulis adalah suatu bentuk berpikir,yangjuga merupakan alat untuk membuat orang lain (pembaca) berpikir. Dengan menulis, seseorang siswa mampu mengkonstruk berbagai ilmu atau pengetahuanyangdimiliki dalam sebuah tulisan, baik dalam bentuk esai, artikel, laporan ilmiah, cerpen, puisi,dansebagainya.
Seorang penulis tidak saja harus menguasai prinsip-prinsip menulis, berwawasandanberpengetahuan luas (memadai), menguasai kaidah-kaidah bahasa, terampil menyusun kalimat dalam sebuah paragraf, tetapi juga harus mengetahui prinsip-prinsip berpikir. Penulis harus memiliki berbagai informasi tentang apayangakan ditulis. Informasi tersebut dapat diperoleh dari membacadanmendengarkan dari berbagai sumberdanmedia informasi. Tidak ada seorang penulis punyang malas membaca.
pada sekitar tahun 845 M, para pemikir muslim telah banyak menghasilkan sebuah tulisan karena kegilaannya membaca. Ambil sajacontohAr-Razi sebagai peletak dasar ilmu kimiayangtelah menghasilkan lebih dari 220 judul buku. Begitu juga Ibnu Tamiyahyangtidak mau sedikit pun waktunya hilang hanya karena harus buang air besar. Beliau meminta muridnya untuk membacakan sebuah buku dengan suara nyaring ketika beliau berlama-lama di kamar kecil. Melalui kegetolannya dalam membaca, beliau berhasil menulis buku berjudul Al-Aqidah A-Wa’sithyiyyah.
Keterampilan menulis adalah kemampuan mengekspresikan pikiran melalui lambang-lambang tulisan. Keterampilan menulis ini termasuk ke dalam jenis
keterampilan aktif, karena penulis aktif mengolah pesan (informasi)yangingin disampaikan kepada pembaca.
keterampilan ini relative lebih sulit karena melibatkan olah pikir, pilihan kata, susunan bahasa, gaya kepenulisan sehingga tidak terjadi “mis komunikasi” antara penulisdanpembacanya.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, ada perbedaanyangmendasar antara menulis dengan mengarang:
a. Menulis: mengekspresikan pikiran melalui media tulisandanbersifat ilmiah.
b. Mengarang: mengekspresikan pikiran melalui media tulisandanbersifat fiktif imajinatif.
Tujuan Menulis
Kalau Anda ingin menjadi seorang penulis, Anda tidak boleh egois. Anda tidak boleh hanya berpikir ,siapa saya ? Misalnya, mentang-mentang penulisnya seorang doktor, dia banyak menggunakan istilah-istilah asing dalam tulisannya. Dia juga senang menggunakan kalimat-kalimat kompleks agar terkesan rumit. Padahal, dia sedang menulis tentang sebuah topikyangdiperuntukkan pembaca pada tingkat anak-anak. Tentunya, tulisan yangdihasilkan akan sulit dimengerti oleh pembacanya. Ingat, seorang penulis setidak-tidaknya memperhatikan tiga hal dalam tulisannya, yaitu: (1) unsur informatif, (2) unsur pendidikan,dan(3) unsur hiburan. Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut diharapkan sebuah tulisan dapat digemari oleh pembacanya.
Sebuah tulisanyangbaik harus disesuaikan dengan berbagai situasi. Situasiyangdimaksud meliputi:
a. tujuan menulis (perubahanyangdiharapkan terjadi pada diri pembaca);
b. keadaandan tingkat kemampuan pembaca (kelompok usia, terpelajar/tidak terpelajar, pebisnis atau bukan);
c. keadaanyangterlibat dalam penulisan (waktu, tempat, kejadian atau peristiwa, masalah yangmemerlukan pemecahan,dansebagainya.
Tujuan menulis itu bermacam-macam bergantung pada ragam tulisan. Secara umum, tujuan menulis dapat dikategorikan sebagai berikut.
a. Memberitahukan atau menjelaskan
Tulisanyangbertujuan memberitahukan atau menjelaskan sesuatu biasa disebut dengan karangan eksposisi. Karangan eksposisi adalah karanganyangberusaha untuk menjelaskan sesuatu kepada pembaca dengan menunjukkan berbagai bukti-bukti konkret dengan tujuan untuk menambah pengetahuan pembaca. Pembacayangbelum mengenal pesawat tempur F 16 akan memahami tentang jenis pesawat ini setelah membaca karangan dengan judul Kecanggihan Pesawat F 16.Contohlain karangan eksposisi, misalnya Proses Pembuatan Tempe, Peran Pelajar di era Global,danFungsi Teknologi Informasi bagi Siswa.
b. Meyakinkan atau mendesak
Pernahkah Anda mendengar kalimat dalam sebuah diskusi kelas ‘Apa argumen Saudara?’ Arti argumen tersebut adalah alasan untuk meyakinkan seseorang. Alasan tersebut bisa berupa uraian, angka-angka, tabel, grafik,dancontoh-contoh. Dengan demikian tujuan tulisan ini adalah meyakinkan pembaca bahwa apayangdisampaikan penulis benar sehingga penulis berharap pembaca mau mengikuti pendapat penulis.Contohkarangan iniyangbisa siswa buat misalnya Jadilah Siswa Sukses, Beralihlah ke Quantum Learning,dansebagainya.
c. Menceritakan Sesuatu
Tulisanyangbertujuan untuk menceritakan suatu kejadian kepada pembaca disebut dengan karangan narasi. Karangan narasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu narasi ekspositoris (nyata)dannarasi sugestif (fiksi). Narasi ekspositoris misalnya sejarah, biografi,danotobiografi, sedangkan narasi sugestif misalnya cerpen, novel,danlegenda.Contohkarangan narasi ekspositoris misalnya Peperangan Pangeran Diponegoro, Kisah Sukses Seorang Habibie, Sejarah Berdirinya SMA X, sedangkan narasi sugestif misalnya Robohnya Surau Kami, Legenda Suroboyo,danSi Malin Kundang.
d. Mempengaruhi Pembaca
Mungkin Anda pernah membaca janji-janjiyangdisampaikan oleh juru kampanye pada surat kabar atau majalah. Atau mungkin, Anda pernah membaca sebuah iklan dalam surat kabar atau majalah. Apayangdisampaikan juru kampanyedanpemasang iklan itu bertujaun untuk mempengaruhi atau membujuk pembaca agar pembaca mengikuti kehendak penulis dengan menampilkan bukti-buktiyangsifatnya emosi (tidak nyata). Kalimat-kalimat Pakailah Dove, maka kulit Anda akan putih dalam tiga minggu; atau Selalulah menggunakan pensil 2 B karena dengan pensil 2 B Anda pasti lulus UN merupakan kalimatyangingin mempengaruhi pembaca. Kalimat tersebut bersifat persuasif sehingga disebut dengan karangan persuasi.
e. Mengambarkan Sesuatu
&nbrp; Penulis karangan deskripsi tak ubahnya seorang pelukis.Yangmembedakan keduanya adalah mediayangdigunakan, yaitu penadankanvas. Penulis karangan deskripsi bertujuan agar pembaca seolah-olah ikut merasa, melihat, meraba,danmenikmati objekyangdilukiskan penulis. Seseorang bisa seolah-olah melihatdanmerasakan eloknya sebuah kantor pos setelah dia membaca karangan deskripsi dengan judul Keelokan Kantor Pos di Chicago. Perhatikancontohkarangan deskripsi berikut!
Kamar tidurku tidaklah begitu luas. Ukurannya hanya 3 x 4 meter. Pintu kamarku berada di depan ruang keluarga. Kalau Anda masuk, sebelah kiri pintu tampaklah meja belajar. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang berukiryangterbuat dari besi dengan kasuryangditutupi seprai berwarna merah jambu. Sebelah kanan tempat tidur tampak sebuah lemari pakaian.
Dalam kenyataannya, pengungkapan suatu tujuan dalam sebuah tulisan tidak dapat secara ketat, melainkan sering bersinggungan dengan tujuan-tujuanyanglain. Akan tetapi, biasanya dapat diusahakan ada satu tujuanyangdominan dalam sebuah tulisanyangmemberi nama keseluruhan tulisan atau karangan tersebut.
Ditinjau dari sudut kepentingan pengarang, menulis memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut.
a. tujuan penugasan
Pada umumnya para pelajar menulis sebuah karangan dengan tujuan untuk memenuhi tugasyangdiberikan oleh guru atau sebuah lembaga. Bentuk tulisan ini biasanya berupa makalah, laporan, ataupun karangan bebas.
b. tujuan estetis
Para sastrawan pada umumnya menulis dengan tujuan untuk menciptakan sebuah keindahan dalam sebuah puisi, cerpen, maupun novel. Untuk itu, penulis pada umumnya memperhatikan benar pilihan kata atau diksi serta penggunaan gaya bahasa. Kemampuan penulis dalam mempermainkan kata sangat dibutuhkan dalam tulisanyangmemiliki tujuan estetis.
c. tujuan penerangan
Surat kabar maupun majalah merupakan salah satu mediayangberisi tulisan dengan tujuan penerangan. Tujuan utama penulis membuat tulisan adalah untuk memberi informasi kepada pembaca.
d. tujuan pernyataan diri
Anda mungkin pernah membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan pelanggaran lagi, atau mungkin menulis surat perjanjian. Apabila itu benar, berarti Anda menulis dengan tujuan untuk menegaskan tentang apayangtelah diperbuat. Bentuk tulisan ini misalnya surat perjanjian maupun surat pernyataan.
e. tujuan kreatif
Menulis sebenarnya selalu berhubungan dengan proses kreatif, terutama dalam menulis karya sastra, baik itu berbentuk puisi maupun prosa. Anda harus menggunakan daya imajinasi secara maksimal ketika mengembangkan tulisan, mulai dalam mengembangkan penokohan, melukiskan setting, maupunyanglain.
f. tujuan Konsumtif
Ada kalanya sebuah tulisan diselesaikan untuk dijualdandikonsumsi oleh para pembaca. Penulis lebih mementingkan kepuasan pada diri pembaca. Penulis lebih berorientasi pada bisnis. Salah satu bentuk tulisan ini adalah novel-novel populer karya Fredy atau Mira W., atauyanglainnya.
Bagaimana TulisanyangBaik?
Pada prinsipnya, setiap penulis mengharapkan agar pembaca memberikan responsyangbaik terhadap karyanya. Oleh sebab itu, mau tidak mau, penulis harus berusaha agar mampu menyajikan tulisannya dengan menarikdanmudah dipahami dengan harapan bukuyangditulis laku keras di pasaran atau bestseller. Untuk menjadikan bukuyangkita tulis menjadi bukuyangbestseller tentunya tidaklah mudah. Ada beberapa syaratyangharus dipenuhi.
Adapun ciri-ciri tulisanyangbaik adalah sebagai berikut.
a. Tulisan merupakan hasil rakitan dari berbagaibahanatau pengetahuanyangdimiliki oleh penulis. Tulisan bukan hanya sekadar tempelan-tempelanbahanyangdiperoleh penulis dari berbagai literatur ataubahanbacaan. Apabila ini terjadi, penulis bukan sebagai perakit, tetapi hanyalah sebagai pemulung. Bukuyanghanya terkesan sebagai tempelan bahanbukan merupakan tulisanyangbaik. Tulisan tidak lancardanseakan-akan terpotong-potong mengakibatkan ketidakutuhan sebuah tulisan.
b. Mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis dengan jelasdantidak samar-samar, memanfaatkan struktur kalimat dengan tepat,danmembericontoh-contohyang diperlukan sehingga maknanya sesuai denganyangdiinginkan oleh penulis. Dengan demikian, pembaca tidak perlu bersusah-susah memahami maknayangtersuratdan tersirat dalam sebuah tulisan.
c. Mencerminkan kemampuan penulis untuk menulis secara meyakinkan, menarik minat pembaca terhadap pokok pembicaraan, serta mendemontrasikan suatu pengertianyang masuk akal. Dalam hal ini haruslah dihindari penyusunan kata-katadanpengulangan hal-halyangtidak perlu. Setiap kata haruslah menunjang pengertianyangsesuai dengan yangdiinginkan oleh penulis.
d. Mencerminkan kemampuan penulis untuk mengkritisi masalah tulisannyayangpertama serta memperbaikinya. Seorang penulis hendaknya bersediadanmampu merevisi naskah pertamanya.
e. Mencerminkan kebanggaan penulis terhadap naskahyangdihasilkan. Penulis harus mampu mempergunakan ejaandantanda baca secara saksama, memeriksa makna kata danhubungan ketatabahasaan dalam kalimat-kalimat sebelum menyajikan kepada para pembaca. Penulisyangbaik menyadari benar-benar bahwa hal-hal kecil seperti itu dapat memberi akibatyangkurang baik terhadap karyanya.
Secara singkat, ciri-ciri tulisanyangbaik sebagai berikut.
a. Jujur : Jangan mencoba untuk memalsukan gagasan atau sebuah ide karena Anda kurang memiliki pengetahuanyangcukup terhadap apayang akan Anda tulis.
b. Jelas : Jangan membingungkan para pembaca dengan kalimat - kalimat kompleksdanpenjelasanyangbertele-tele.
c. Singkat : Jangan memboroskan waktu para pembaca dengan penjelasan - penjelasanyangdirasa tidak perlu.
d. tidak monoton : Jangan menggunakan kalimatyangberpola sama. Panjang kalimatyang bervariasi dapat menghin dari kebosanan pada diri pembaca.
HUBUNGAN ANTAR KEEMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA
1. Hubungan Menyimak dengan Berbicara
Menyimakdanberbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arahyanglangsung. Menyimak bersifat reseptif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya, komunikasiyangterjadi antar teman, antara pembelidanpenjual atau dalam suatu diskusi di kelas. Dalam hal ini A berbicaradanB mendengarkan. Setelah itu giliran ByangberbicaradanA mendengarkan. Namun ada pula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu satu pihak sajayangberbicaradanpihak lain hanya mendengarkan. Misalnya Khotbah di masjid, dimana pemceramah menyampaikan ceramahnya, sedangkanyanglainnya hanya mendengarkan.
2. Hubungan MenyimakdanMembaca
Menyimakdanmembaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasayangbersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca malakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsure-unsur bahasayangberupa suara (menyimak), maupun berupa tulisan (membaca)yangselanjutnya diikuti diikuti dengan proses decoding guna memperoleh pesanyangberupa konsep, ide, atau informasi.
Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1994:2) menuliskan hubungan penting antara Menyimakdanmembaca antara lain:
1. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca diberikan oleh sang guru melalui bahasa lisan.
2. menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (verbalized learning)
selama tahun-tahun permulaan di sekolah.
3. kosa kata atau perbendaharaan kata menyimakyangsangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.
4. menyimak turut membantu sang anak untuk menangkap ide utamayangdiajukan oleh pembicara; bagi pelajaryanglebih tinggi kelasnya, membaca lebih unggul daripada menyimak sesuatuyangmendadakdanpemahaman informasiyangterperinci.
Membaca tanpa menyimak apayangdibaca. Itulahyangkebanyakanyangdilakukan oleh orang. Pernah membaca paragrafyangsama sampai tiga kali diulang? Atau sudah selesai di paragraf terakhir tanpa tahu apayangbaru saja kita baca? Itulahyangdisebut dengan membaca tanpa menyimak. Ini sama saja dengan mengendarai mobil berkilo-kilo meter tanpa ingat bagaimana kita mencapai jarak sejauh itu. Hal seperti itu sudah cukup biasa terjadi pada banyak orang.
Suatu studi dilakukan ilmuwan asal University of PittsburghdanUniversity of British Columbia untuk mempelajari kebiasaan buruk tersebut. Mereka melakukan serangkaian eksperimen terhadap sejumlah pembaca. Pembaca dengan kebiasaan kurang menyimak diketahui cenderung memiliki hasil buruk saat mengikuti tes komprehensif. Mereka dalam kondisiyangdisebut dengan"zooning out"atau keluar dari zonayangseharusnya diperhatikan. Faktor penyebabnya cukup banyak, salah satunya adalah kemajemukan teks atau tugas.
Hasil studi ini menginspirasi ilmuwan untuk melakukan riset lebih jauh mengapa"zooning out"terjadidanbagaimana menghentikannya. Masalah ketidakseriusan membaca ini selintas terdengar sepele sekali.
Danakibatnya cukup fatal. Ada banyak keputusanyangdibuat salah sebagai imbas dari aktivitas membacayangtidak diikuti menyimak konten bacaan dengan baik. Bayangkan kalau Anda seorang presidendanmembaca keputusan hukum tanpa menyimak saksama. Atau seorang dosen mengajarkan hal salah ke mahasiswanya hanya karena membaca tanpa menyimak dengan baik.
Kebiasaan membaca tanpa menyimak dengan baik banyak dilakukan orang.
Mata kita selalu membaca kata per kata, tapi pikiran kita kadang melayang entah kemana. Adayangmerasa lapar, haus, lelah, sehingga berpikir banyak hal dilakukan nanti.
3. Hubungan MembacadanMenulis
Membacadanmenulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasayangbersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatanyangbersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mencoba memahami gagsan, perasaan atau informasiyangdisajikan dalam bentuk tulisan tersebut.
Membaca adalah suatu proses kegiatanyangditempuh oleh pembacayangmengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burns, 1985). Proses tersebut berupa penyandian kembalidanpenafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat,danwacana, serta menghubungkannya dengan bunyidanmaknanya (Anderson, 1986). Lebih dari itu, pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya (Ulit, 1995). Sejalan dengan hal tersebut, Kridalaksana (1993) menyatakan bahwa membaca adalah keterampilan mengenaldanmemahami tulisan dalam bentuk urutan lambing-lambang grafisdanperubahannya menjadi bicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras. Kegiatan membaca dapat bersuara nyaringdandapat pula tidak bersuara (dalam hati).
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafisyangmenggambarkan suatu bahasayangdipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafis tersebut (Bryne, 1983). Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis symbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata,dankata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimatyangdirangkai secara utuh, lengkap,danjelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan karang-mengarang, pengarang menggunakan bahasa tulis untuk menyatakan isi hatidanbuah pikirannya secara menarik kepada pembaca. Oleh karena itu, di samping harus menguasai topikdanpermasalahannyayangakan ditulis, penulis dituntut menguasai komponen (1) grafologi, (2) struktur, (3) kosakata,dan(4) kelancaran.
Aktivitas menulis mengikuti alur prosesyangterdiri atas beberapa tahap. Mckey mengemukakan tujuh tahap yaitu (1) pemilihandanpembatasan masalah, (2) pengumpulanbahan, (3) penyusunanbahan, (4) pembuatan kerangka karangan, (5) penulisan naskah awal, (6) revisi,dan(7) penulisan naskah akhir.
Secara padat, proses penulisan terdiri atas lima tahap yaitu; (1) pramenulis, (2) menulis, (3) merevisi, (4) mengedit,dan(5) mempublikasikan.
1. Pramenulis
Pramenulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakukan berbagai kegiatan, misalnya menemukan ide/gagasan, menentukan judul karangan, menentukan tujuan, memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangkadanmengumpulkanbahan-bahan.
Ide tulisan dapat bersumber dari pengalaman, observasi,bahanbacaan,danimajinasi. Oleh karena itu, pada tahap pramenulis diperlukan stimulus untuk merangsang munculnya responyangberupa idea tau gagasan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, misalnya membaca buku, surat kabar, majalah,danlain-lain.
Penentuan tujuan menulis erat kaitannya dengan pemilihan bentuk karangan. Karanganyangbertujuan menjelaskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan eksposisi; karanganyangbertujuan membuktikan, meyakinkan,danmembujuk dapat disusun dalam bentuk argumentasidanpersuasi. Karanganyangbertujuan melukiskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan deskripsi. Di samping seorang penulis dapat memilih bentuk prosa, puisi, atau drama untuk mengkomunikasikan gagasannya.
2. Menulis
Tahap menulis dimulai dari menjabarkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Ide-ide dituangkan dalam bentuk satu karanganyangutuh. Pada tahap ini diperlukan berbagai pengetahuan kebahasaandanteknik penulisan. Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa,danpembentukan kalimat. Sedangkan teknik penulisan diterapkan dalam penyusunan paragraf sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.
3. Merevisi
Pada tahap merivisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan paragraf dalam tulisan. Koreksi harus dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangandankebahasaan. Struktur karangan meliputi penataan ide pokokdanide penjelas serta sistematika penalarannya. Sementara itu aspek kebahasaan meliputi pemilihan kata, struktur bahasa, ejaandantanda baca.
4. Mengedit
Apabila karangan sudah dianggap sempurna, penulis tinggal melaksanakan tahap pengeditan. Dalam pengeditan ini diperlukan format bakuyangakan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas, bentuk tulisan,danpengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluasdandisempurnakan dengan penyediaan gambar atau ilustrasi. Hal itu dimaksudkan agar tulisan itu menarikdanlebih mudah dipahami.
5. Mempublikasikan
Mempublikasikan mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama, berarti menyampaikan karangan kepada public dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertianyangkedua disampaikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan dapat dilakukan dengan pementasan, penceritaan, peragaan,dansebagainya.
Gaya Tulisan Berasal dari Membaca
Riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca. Untuk lebih tepatnya, kita memperoleh gaya tulisan, bahasa khusus penulisan, dengan membaca. Kita sudah melihat banyak buktiyangmenegaskan hal ini: Anak-anakyangberpartisipasi dalam program membaca-bebas, menulis dengan lebih baikdanmerekayangmelaporkan bahwa semakin banyak mereka membaca semakin baik tulisannya
Ada alasan lain untuk memperkirakan bahwa gaya penulisan berasal dari membaca."Argumen kompleksitas"berlaku pula untuk penulisan: Semua cara di mana bahasa tertulis"resmi"berbeda dengan bahasayanglebih informal terlalu rumit untuk dipelajari satu per satu. Bahkan walau pembaca mengenali tulisanyangbaik, para peneliti tidak berhasil menjabarkan secara lengkap tentang apa persisnyayangmembuat tulisanyang"bagus"itu bagus. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengatakan gaya penulisan tidak dipelajari secara sadar, melainkan umumnya diserap, atau secara tidak sadar diperoleh, lewat membaca.
Hunting (1967) memaparkan riset untuk disertasi (tidak dipublikasikan)yangmenunjukkan bahwa kuantitas tulisan tidak berkaitan dengan kualitas tulisan. Banyak sekali kajianyangmenunjukkan bahwa meningkatnya kuantitas tulisan tidak mempengaruhi kualitas tulisan. Nah, tentang gaya tulisan berasal dari membaca bukan dari menulis, sejalan denganyangdiketahui tentang kemahiran berbahasa: Kemahiran berbahasa diperoleh melalui masukan (input), bukan keluaran (output), dari pemahaman, bukan hasil. Dengan demikian, jika Anda menulis satu halaman sehari, gaya tulisan Anda tidak akan meningkat. Akan tetapi, hal baik lain bisa dihasilkan dari tulisan Anda, sebagaimanayangakan kita lihat dalam pembahasan berikut.
Beberapa Pendapat Mengenai Hubungan Membaca dengan Menulis
Berikut ini adalah beberapa pendapat orang-orangyangsering menulis di blog mengenai hubungan membaca dengan menulis.
Apabila banyak membaca maka kalau kita membuat suatu tulisan maka akan dengan mudah untuk mengembangkan suatu tulisan. menulis suatu tulisan lebih baiknya diawali dengan membaca terlebih dahulu. (Hakim, 2008).
Semakin banyak membaca semakin lancar pula menulis. (Nita, 2008).
Membaca akan menjadikan kita punyabahanuntuk nulis. (Sholeh, 2008) .
Harus seimbang antara membacadanmenulis, artinya, kita jangan hanya membaca saja tapi juga sebaiknya menghasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan. (Finazli, 2008)
Jika anda ingin menjadi penulis–atau setidaknya mampu menulis dengan baikdankreatif–yangharus Anda lakukan hanyalah dua hal : banyak membacadanbanyak menulis. Tak adayanglain. (Irfani, 2008)
4. Hubungan Menulis dengan Berbicara
Berbicaradanmenulis merupakan kegiatan berbahasayangbersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbahasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan berbahasayangbersifat langsung.
Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasiyangdalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari satu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesanyangakan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam symbol-simbolyangdipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gofur, 6 : 2009)
Aspek-aspekyangdinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaandannonkebehasaan. Aspek kebahasaan terdiri atas; ucapan atau lafal, tekanan kata, nadadanirama, persendian, kosakata atau ungkapan,danvariasi kalimat atau struktur kalimat. Aspek nonkebahsaan terdiri atas; kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat,dansikap.
Langkah-langkahyangharus dikuasai oleh seorang pembicarayangbaik adalah:
1. Memilih topik, minat pembicara, kemampuan berbicara, minat pendengar, kemampuan mendengar, waktuyangdisediakan.
2. Memahamidanmenguji topik, memahami pendengar, situasi, latar belakang pendengar, tingkat kemampuan, sarana.
3. Menyusun kerangka pembicaraan, pendahuluan, isidanpenutup.
5.
Hubungan Berbicara dengan Membaca
Berbicaradanmembaca berbeda dalam sifat, sarana,danfungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisandanberfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulisdanberfungsi sebagai penerima informasi.
Bahanpembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasiyangdiperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagiyangbersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasiyangdiperolehnya antara lain melalui berbicara.
Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1994:2) menuliskan hubungan penting antara membacadanberbicara antara lain:
1. performasi membaca berbeda sekali dengan kecakapan bahasa lisan.
2. kalau, pada tahun-tahun permulaan sekolah, ujaran membentuk suatu pelajaran bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelasyanglebih tinggi turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka, misalnya: kesadaran linguistic mereka terhadap istilah-istilah baru, struktur kalimatyangbaikdanefektif, serta penggunaan kata-katayangtepat.
3. kosa kata khusus mengenaibahanbacaan haruslah diajarkan secara langsung. Andaikata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan/buku pegangan murid, maka sang guru hendaknya mendiskusikannya dengan murid sehingga mereka mnemahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.
Membaca artinya adalah menggerakkandanmengaktifkan fungsi indera informasiyangterdapat pada tubuh manusia yaitu matadantelinga. Desain bentuk manusiayangdiciptakan oleh Tuhan, menempatkan matadantelinga sebagai pintu masuk informasiyangdiperlukan oleh otak supaya bisa memberikan intruksi kepada syaraf tubuh untuk menggerakkan inderayanglain.
Berbicara artinya proses dimana otak memberikan intruksi kepada syaraf bicara untuk mengulang informasiyangtelah didapat melalui matadantelinga agar dapat bebentuk suaradandapat ditangkap oleh orang lain sebagai informasi. Proses berbicara harus didahului dengan proses membaca dan ini akan terus terjadi secara berulang-ulang.
Kemampuan dan kemauan membaca mutlak diperlukan oleh semua individu yang memikirkan peningkatan kemampuan diri dengan terus menerus tanpa mengenal batas waktu, baik dalam memulainya ataupun dalam mengakhirinya. Berfikir terlambat untuk memulai belajar membaca adalah hal yang tidak seharusnya ditanamkan pada diri sendiri karena hal itu akan menyebabkan sebuah rasa rendah diri muncul ketika berada pada sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang yang berwawasan.
Berbeda dengan membaca, kemampuan berbicara memerlukan suatu kondisi yang sangat mendukung dalam pelaksanaannya. Untuk menunjukkan kemampuan berbicara dan mengemukakan pendapat diperlukan latihan yang terarah serta materi yang memadai. Kemampuan berbicara seseorang juga tidak terus menerus digunakan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mendapatkan kemampuan berbicara yang memadai, umumnya seseorang harus terbiasa dahulu dengan sebuah lingkungan yang memiliki aturan yang kuat secara hierarki. Lingkungan tersebut dapat berupa organisasi massa atau lingkungan kerja.
Kemampuan membaca harus dijalankan terlebih dahulu sebelum kemampuan berbicara dimiliki. Kemampuan membaca ini akan menciptakan daya pikir yang menyukai analisa atas sebab suatu hal. Peningkatan daya pikir yang memperkuat analisa akan membuat kemampuan berbicara jauh lebih baik meskipun seseorang tidaklah rutin melatih kemampuan berbicaranya. Kemampuan berbicara tidaklah selalu dijadikan indikator dari tingkat intelegensi seseorang karena mengarang kata-kata bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebaliknya kemampuan membaca bisa dijadikan indikator kekuatan intelegensi seseorang karena melatih kemampuan membaca butuh usaha keras dan konsistensi seumur hidup.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pengertian Dan Manfaat Keterampilan Berbahasa
Ditulis oleh rendy putra vaklyrie Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://catatansimungil.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-manfaat-keterampilan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
- See more at: http://rendy-putra-valkyrie.blogspot.com/2014/12/pengertian-dan-manfaat-keterampilan.html#sthash.oX5vJmTM.dpuf
Rabu, 15 Oktober 2014
Konsep Dasar IPS
Blog Urang Euy!
Sabtu, 15 Oktober 2014
KONSEP DASAR IPS
Disusun Oleh:
Rendy Putra Valkyrie
UNIVERSITAS TERBUKA
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)
Ruang lingkup dan cakupan konsep dasar IPS dapat dikemukakan sebagi berikut:
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajian Ilmu Pngetahuan Sosial (IPS) mengunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk bidang-bidang ilmu sosial.
Kerangka kerja Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tidak menekankan pada bidang teoretis, tetapi lebih pada bidang-bidang praktis dalam mempelajari gejala dan masalah-masalah sosial yang terdapat di lingkungan masyarakat. Studi Sosial tidak perlu akademis teoretis, namun merupakan satu pengetahuan praktis yang dapat di ajarkan pada tingkat persekolahan,yaitu mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi. Demikian pula pendekatan yang digunakan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berbeda dengan pendekatan yang biasa digunakan dalam Ilmu Sosial.
Pendekatan Ilmu Pengetahuan Sosial
Bersifat interdisipliner atau bersifat multidisiplinerdengan menggunakan berbagai bidang keilmuan, sedangkan pendekatan yang digunakan Ilmu Sosial (Sosial Sciences) bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Demikian pula pada tingkat yang taraf yang lebih rendah pendekatan studi Sosial lebih bersifat multidimensional, yaitu meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan.
Hakikat Pendidikan IPS
Bidang studi IPS, pada hakikatnya merupakan perpaduan pengetahuan sosial. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) intinya merupakan perpaduan antara giografi dan sejarah. Untuk Sekolah Lanjut Menengah Pertama (SLTP) intinya merupakan perpaduan antara geografi, sejarah dan ekonomi koperasi. Sedangkan untuk Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) intinya adalah perpaduan antara geografi, sejarah dan ekonomi koperasi dan Antropologi.di tingkat perguruan tinggi, bidang studi IPS ini dikenal sebagai studi sosial. IPS atau studi Sosial ini, merupakan perpaduan dari berbagai bidang keilmuan Ilmu Sosial. Studi Sosial memiliki perbedaan yang prinsipiil dengan ilmu-ilmu sosial. IPS yang meliputi; Rasional, Sejarah, Definisi, dan Tujuan mempelajari IPS serta Sub PB Konsep-konsep Dasar IPS, Ilmu-ilmu Sosial dan Bidang Studi lain, dalam hubungannya dengan IPS. Namun sebelumnya akan di perjelas istilah kata hakikat IPS.
Hakikat IPS dapat diartikan sebagai kebenaran, kenyataan yang sebenarnya (Poerwadarminta, 1985). Jadi IPS adalah suatu kebenaran IPS, atau kenyataan IPS, menurut NCSS (National Council for Social Studies) :
1. IPS Perwujudan dari satu pendekatan Interdisipliner dari pelajaran Ilmu-ilmu Integrasi dari berbagai cabang Ilmu Sosial seperti: Sejarah, Geografi, Ekonomi,Sosiologi, Antropologi, Ilmu Politik dan Psykologi sosial.
2. IPS Menampilkan permasalahan sehari-hari masyarakat sekeliling.
3. IPS bukan Ilmu Sosial walaupun bidang perhatiannya sama yaitu hubungan
4. IPS hanya terdapat pada program pengajaran di sekolah.
5. IPS merupakan penyederhanaan Ilmu sosial untuk pengajaran di sekolah.
Proses Pendidikan IPS
Proses pembelajaran pendidikan IPS dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat usia peserta didik masing-masing. Ragam pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Secara formal, proses pembelajaran dan membelajarkan itu terjadi di sekolah, baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
IPS sebagai satu program pendidikan tidak hanya menyajikan tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajibannya, yang juga memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama yang seluas-luasnya.
Tujuan Pendidikan IPS
Sebagai bidang pengetahuan, ruang lingkup IPS dapat terlihat nyata dari tujuannya. Di sepanjang sejarahnya IPS memiliki lima tujuan yaitu:
IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut di bidang sosial sciences jika nantinya masuk ke perguruan tinggi.
IPS yang tujuannya mendidik kewarganegaraan yang baik.
IPS yang hakikatnya merupakan suatu kompromi antara 1 dan 2 tersebut di atas.
IPS yang mempelajari closed areas atau masalah-masalah sosial yang pantang untuk dibicarakan di muka umum.
IPS dipilih, disaring dan disingkronkan kembali maka sasaran seluruh kegiatan belajar dan pembelajaran IPS mengarah kepada 2 hal, Pembinaan warga egara Indonesia atas dasar moral Pancasila / UUD 1945. - Sikap sosial yang rasional dalam kehidupan.
IPS merupakan terjemahan dari studi sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. Para ahli pendidikan di Amerika Serikat pada waktu itu berkesimpulan bahwa pengajaran Ilmu-ilmu sosial yang diajarkan secara sendiri-sendiri dalam bentuk disiplin ilmu, seperti: Sejarah, geografi, ekonomi, dan lain-lain tidak akan mampu membekali para subyek didik untuk dapat mengenal dan mengerti masalah sosial yang ada disekitarnya.
Dengan demikian diintroduksikannya social studies yang diharapkan dapat Kelahiran Bidang Studi IPS dalam Kurikulum sekolah di Indonesia, banyak-banyak di ilhami oleh pengajaran social studies di Amerika Serikat. Bahkan istilah Ilmu pengetahuan sosial (IPS), adalah terjemahan dari apa yang dinamakan Social studies dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat (N. Daljuni 1981).
Perkembangan IPS Indonesia
Pengajaran IPS di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh pakar IPS pada tahun 1969 yaitu oleh Ibu Prof Dr. Soepartina Pakasi pada SD PPSP IKIP Malang. Pada tahun 1971 IPS dimasukkan dalam buku induk Depdikbud. Pada tahun 1972 sudah ramai diperbincangkan dalam rencana pembaharuan Kurikulum sekolah di Indonesia. Bidang studi IPS resmi di cantumkan dalam kurikulum pada tahun 1974. Pada tahun 1975 nama bidang studi IPS sudah tercantum dalam kurikulim SD, SMP, SMU. Pelaksanaannya dilaksanakan secara bertahap dimulai pada tahun 1976.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Indonesia kelahirannya bersamaan dengan lahirnya kurikulum Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, dimana dunia pengajaran sekolah pada umumnya selalu tertinggal, maka IPS diperlukan sebagai wadah pengetahuan yang mengharmoniskan laju perkembangan ilmu dan kehidupan dalam dunia pengajaran sekolah. Sebab IPS mampu melakukan lompatan-lompatan ilmu secara konsepsional untuk kepentingan praktis kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan dan zaman. Maka melihat jenis dan susunan konsep/topik dalam IPS sungguh sangat banyak bervariasi dari berbagai ilmu sosial serta dari tuntutan-tuntutan persoalan kehidupan praktis.
Oleh karena itu, untuk memudahkan pemahaman terhadap IPS perlu dikemukakan terlebih dahulu Pengertian Social Studies (IPS) dari beberapa :
1. Arthur G. Binning and David H.Binning (1982)
Studi Sosial adalah mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan perkembangan dan organisasi masyarakat manusia dan manusia sebagai
2. Edgar B. Wesley (1980),
Studi Sosial adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pengajaran di sekolah.
3. Willian B. Ragam (1982),
Program Studi Sosial mencerminkan bahan-bahan dari berbagai ilmu Sosial, tetapi ia juga mempergunakan bahan-bahan dari masyarakat setempat.
4. John Jarolimek (1967)
Studi Sosial merupakan bagian dari kurikulum pendidikan dasar yang materi pelajarannya terdiri dari ilmu- ilmu social seperti; Sejarah, Geografi, Ekonimi, Antropologi, Soiologi, Politik, Jadi Studi Sosial dapat pula dikatakan sebagai bagian-bagian dari ilmu sosial
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram Jarolemek sebagai berikut:
SOCIOLOGY
ANTROPOLOGY
ECONOMIC
POLITICAL
SOCIAL STUDIES
PHILOSOPHY
SOCIAL
Selanjutnya akan dikemukakan pula pengertian IPS menurut para pakar
1. Nasution.D,Prof,Dr M.A (1975)
IPS adalah suatu program Pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti: geografi,sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik dan psikologi sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS pelajaran yang merupakan fusi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran Ilmu-ilmu sosial. Atau IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial.
2. Nu’man Sumantri (1973)
IPS sebagai bahan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran
3. A. Kosasi Djahiri (1983)
IPS adalah merupakan ilmu pengetahuan ang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.
Berdasarkan pada uraian tentang pengertian IPS, maka guru IPS diharapkan selain memahami orientasi dan pendekatan kurikulum, juga memahami konsep-konsep dan generalisasi yang terdapat dalam kurikulum maupun dari buku paket dan buku teks lainnya yang dianggap tepat untuk diajarkan.
Upaya itu dimaksudkan agar konsep dan generalisasi dapat diajarkan sebagai jawaban terhadap tuntutan kebutuhan yang beranggapan bahwa pengajaran fakta selama ini sudah tidak memadai lagi, seperti dikatakan Edwin Fenton (1976) bahwa: fakta semata tidaklah berarti apa-apa untuk dirinya sendiri. Fakta akan memiliki arti dalam fikiran orang yang mempelajarinya. Suatu fakta yang sama akan mempunyai arti yang berbeda
Dapat juga dikatakan bahwa pelajaran IPS ini diharapkan bukan hanya penanaman, pembinaan pengetahuan konsepsional belaka, melainkan ialah :
pembinaan pengerian sikap terhadap nilai-nilai praktis (operasional) dari pada konsep tersebut serta kemahiran penerapannya sebagai insan sosial. Oleh karena pengajaran IPS bukan sekadar menyedorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan kemampuan guru dan siswa menarik nilai/arti yang terkandung dalam IPS
Kardiyono Mertodihardjo (1984) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan gambaran tentang, fakta, konsep generalisasi dan teori, maka secara jelas akan diuraikan dan berurutan melalui Hirarki Konsep seperti pada bagang berikut :
1. Persepsi
adalah pengamatan melalui indra, penafsiran terhadap suatu persepsi dipengaruhi pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki seluruhnya oleh seseorang. Persepsi ini merupakan proses penyaringan berdasarkan pengalaman-pengalaman. Persepsi merupakan produk mental dari hasil pengalaman ia merupakan bahan mental untuk berfikir melalui daya persepsi dan daya mengingat, seseorang mengumpulkan informasi tentang kejadian
2. Fakta
adalah kejadian, obyek atau gejala-gejala yang sudah atau dapat dibenarkan oleh indera. Fakta yang diperoleh berdasarkan observasi tidakmempunyai arti sendiri, ia sekedar alat. Ilmu dibentuk dari fakta, sebagaimana halnya batu bata sebagai alat pembentuk gedung. Kumpulan fakta bukan gedung, kumpulan fakta bukan ilmu. Fakta merupakan data mentah bagi pembentukan konsep. Sebagai contoh: Bumi beredar mengelilingi matahari
3. Konsep
adalah suatu abstraksi (hanya dalam ingatan dan pikiran) dari fakta dan persepsi. Merupakan gambaran dikepala (inpresi, visualisasi, representasi gejala-gejala) konsep memberikan arti keteraturan dan pengalaman. Konsepsi merupakan pembedaan/pemilikan secara sadar dari pengalaman persepsi yang pernah dieroleh. Konsep tidak dapat dipelajari tanpa pengalaman yang relevan dengan gejala/kejadian yang akan di”konsep”kan. Salah konsep (misconception) terjadi karena adanya penghilangan atau penambahan dari apa yang esensil ada didalam konsep. Akibatnya: kekeliruan dalam penyamaan terhadap gejala-gejala lain, ini dinamakan “over generalization”. Jenis konsep yang dikembangkan oleh anak didik terbatas pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh sebelumnya, konsep berguna untuk menggolong-golongkan benda, ide, kejadian, konsep harus dapat di abstraksikan, ini sangat esensiil. Perlu diberikan catatan penting bahwa, Konsep merupakan abstraksi dari sekumpulan fakta yang memiliki ciri-ciri yang sama. Konsep itu terwujud dari bentuk konkrit ke bentuk abstrak. Proses ini dilakukan oleh anak-anak
4. Stereotipe
ialah konsep tentang orang/obyek, tempat, kejadian yang belum terwujud berdasarkan pengalaman-pengalaman yang cukup. Sedangkan fungsi konsep disini adalah (1) sebagai unsur respon terhadap sesuatu kejadian atau maksud, (2) sebagai perantara kejadian dan perbuatan dan perbuatan/kelakuan, (3) membantu kita untuk membedakan, menggolongkan, memperhitungkan fakta-fakta di sekeliling kita.
5. Generalisasi
berfungsi dalam pengajaran IPS antara lain adalah (1) membantu dalam pemilihan bahan pelajaran, (2) sebagai tujuan umum IPS, (3) mengorganisasi kegiatan belajar mengajar, (4) membantu dalam membangun hubungan pengertian atau artikulasi bahan-bahan pengajaran dalam kurikulum IPS. Selain hal tersebut juga generalisasi memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain (a) generalisasi menunjukkan hubungan dua konsep atau lebih, (b) generalisasi lebih bersifat umum dan merupakan abstraksi yang menunjukkan pada keseluruhan dan bukan bagian atau contoh, (c) generalisasi adalah tingkat abstraksi yang lebih tinggi dan bukan sekedar konsep, (d) generalisasi didasarkan pada proses. Generalsasi dikembangkan atas dasar penalaran dan bukan hanya berdasarkan pengamatan semata (e) generalisasi berisi pernyataan-pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya, (f) generalisasi bukanlah sekedar pernyataan yang diverbalkan atau penegasan
6. Teori
adalah bentuk pengetahuan dalam tingkat tertinggi, merupakan salah satu dari tujuan pokok didalam perkembangan setiap disiplin/ilmu.Terdiri dari suatu proposisi (generalisasi) yaitu: prinsip, dalil, hukum, dan sebagainya yang saling terkait
Oleh karena itu setiap disiplin ilmu sosial memiliki dan mengembangkan konsep-konsep masing-masing yang dilakukan oleh para ahlinya seperti jenis-jenis konsep yang perlu dikembangakan oleh para guru IPS adalah (a) konsep konjungtif, (b) konsep disjungtif, (c) konsep 4. Generalisasi adalah merupakan paduan dari dua atau lebih dari konsep-konsep: dapat sederhana (kian besar keluarga, kian besar biaya), dan dapat kompleks (setiap masyarakat memiliki kebuadayaan masing-masing). Kumpulan dari generalisasi atau biasanya berupa prinsip, dalil, hukum, pernyataan dapat membentuk teori.
Bahan Pelajaran IPS
Bahan pelajaran IPS pada konsep-konsep dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik psykologi sosial dan ekologi. Disamping lingkungan alam dan masyarakat sekeliling juga memberikan bahan berupa fakta-fakta (M. Abduh, 1990). Oleh karena itu guru IPS wajib mengetahui konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial dan fakta-fakta sekitar dengan baik.
Ruang Lingkup IPS
Ruang lingkup IPS ialah keseluruhan lapangan ilmu sosial. Dalam pengajaran IPS baik konsep maupun generalisasi diupayakan agar ditemukan sendiri oleh siswa melalui pendekatan induktif. Namun untuk kepentingan pengajaran ada baiknya bila guru sendiri telah memiliki konsep-konsep dan generalisasi, yang dapat digunakan untuk menguji konsep-konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa. Tidak berarti bahwa rumusan konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa harus sama persis Setiap cabang ilmu sosial mempunyai titik berat perhatian yang berbeda-beda, misalnya: Sejarah sangat memperhatikan aspek waktu, Geografi sangat memperhatikan aspek keruangan, Ekonomi sangat memperhatikan aspek kelangkakaan sumber kebutuhan hidup, Sosiologi aspek masyarakat dan seterusnya.
Adanya titik berat perhatian yang berbeda-beda itu, maka setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep dan generalisasi masing-masing sesuai dengan titik berat perhatiannya. Setiap siswa perlu menguasai pengertian tentang konsep dasar dan generalisasi berbagai cabang ilmu sosial yang dapat dipergunakan untuk mempelajari persoalan kemasyarakatan, mencoba menyelami prosesnya dan mencoba ikut memecahkannya.
Mempelajari konsep dan generalisasi IPS sangat penting karena: (a) siswa mudah memahami proses-proses yang terjadi dalam masyarakat, (b) konsep dan generalisasi tidak mudah dilupakan, Karena diperoleh melalui pemahaman dan bukan melalui hafalan. (c) konsep dan generalisasi yang dipahami membuat sesuatu peristiwa menjadi lebih jelas kaitannya satu dengan
Pengajaran IPS sifat menyeluruh penting untuk diketahui dan dipahami, karena IPS menangani bahan pelajaran dalam hubungan tali temali, kait berkait atau “Integrated” atau “Interdisipliner”. Program IPS harus mengembangkan; pengertian, sikap, dan keterampilan. Pengertian; menyangkut perkembangan fakta, konsep dan generalisasi yang merupakan isi dasar IPS. Hal ini dapat diambil dari ilmu- ilmu sosial dan dari pengalaman dalam masyarakat sendiri. Sikap; menyangkut nilai, apresiasi, dan ide-ide yang diperoleh anak didik melalui program IPS. Sedangkan keterampilan; menyangkut kemampuan tehnis dan fisik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dikembangkan pada setiap program IPS sesuai dengan tujuan IPS.
Setiap program IPS hendaknya berorientasi kepada Negara, bangsa dan Mulyono Tj (1982) mengemukakan bahwa pengajaran IPS perlu pula memperhatikan bagaimana cara memilih dan menyusun konsep, agar pelaksanaan dan pengembangan materi pelajaran tidak bermasalah, artinya tidak terjadi kesalahan dalam memilih konsep atau salah konsep maka perlu diperhatikan cara memilih konsep hendaknya dipilih berdasarkan prinsip-prinsip seperti berikut yaitu:
(a) perinsip keperluan, (b) perinsip ketepatan, (c) perinsip mudah dipahami, dan (d) perinsip kegunaan.
Tujuan pengajaran IPS
Menurut Edwin fenton (1986) yaitu :
Tujuan Pembelajaran IPS : (a) mempersiapkan anak didik menjadi warga Negara yang baik, (b) mengajar anak didik berkemampuan berpikir dan (c) agar anak dapat melanjutkan kebudayaan bangsanya.
Menurut L.H. Clark (1983)
Titik berat studi sosial adalah perkembangan individu yang dapat memahami lingkungan sosialnya, serta manusia dengan kegiatan intraksi antar mereka, dan anak didik diinginkan agar dapat menjadi anggota yang produktif dan dapat memberikan andilnya dalam masayarakat.
Dalam buku “Teaching Social studies” (1962) dari Departemen of Instructions Fairfax Country Schools Virginia, mengemukakan bahwa program studi sosial hendaknya menyajikan kesempatan yang banyak setra beraneka ragam untuk membentuk warga Negara yang efektif, termasuk kesadaran
Tujuan pengajaran IPS di Indonesia,
M. Abduh (1990)
IPS bertujuan seperti tersebut di atas yang merupakan tujuan yang bersifat universal yang dapat berlaku bagi anak didik di negara manapun di dunia ini. Selain tujuan yang umum itu, maka pada setiap Negara mempunyai tujuan khusus yang khas, berdasarkan filsafat, sejarah, watak, dan keadaan geografis yang berbeda-beda.
IPS di Indonesia merupakan wahana pencapaian tujuan pendidikan nasional. Yang harus dimiliki oleh anak didik yaitu:
(a) Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) cerdas dan terampil, (c) berbudi pekerti yang luhur, (d) memiliki keperibadian yang kuat, dan (e) memiliki semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang tebal. Bagi bangsa Indonesia, karakteristik warganegara yang baik tentu saja harus mengacu kepada dasar Negara.
Secara khusus tujuan pengajaran IPS di sekolah dapat dikelompokkan menjadi :
Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa datang.
Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk mencari pekerjaan
Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap (values) demokrasi
Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta
Keempat tujuan tersebut tidak terpisahkan atau berdiri sendiri, melainkan merupakan kesatuan dan saling berhubungan. Keempat tujuan tersebut sesuai dengan perkembangan pendidikan IPS sampai pada saat sekarang.
Chaping, J.R
Bahan pelajaran IPS bersumber dari masyarakat dan alam sekeliling kita. Bahan tersebut disusun dalam topik-topik yang berisikan konsep-konsep dan generalisasi yang harus disajikan kepada siswa-siswa sesuai dengan perumusan arti IPS. Konsep dan generalisasi berasal dari berbagai cabang ilmu sosial
Kadiyono Mertodihardjo (1984).
Lingkungan sosial dan alam siswa perlu pula digunakan berbagai pedoman dalam penyusunan bahan sehingga apa yang akan disajikan ada kaitannya dengan masyarakat tempat tinggalnya. Namun perkembangan penduduk yang amat cepat mengakibatkan pertumbuhan kehidupan masyarakat yang amat kompleks.
Perkembangan teknologi dan ilmu membawa timbulnya beraneka ragam peralatan sehingga pemilihan dan penyajian bahan peralatan yang tepat merupakan masalah pula. Jelas sekali bahwa kini makin banyak pengertian yang harus diketahui oleh siswa. Hal ini tidak akan terlaksana melalui proses tradisional dengan menghafal dan mengingat meluluh. Proses penguasaan bahan harus dirombak dengan cara penguasaan konsep dan generalisasi, karena dengan penguasaan konsep dan generalisasi amat penting dan dapat memudahkan pemahaman siswa tentang masyarakat.
Berikut akan diuraikan satu persatu tentang konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu-ilmu sosial menurut Mulyono Tj (1982) adalah seperti berikut:
Konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial adalah (a) sejarah, (b) geografi, (c) ekonomi, (d) sosiologi, (e) antropologi, (f) politik,dan (g) psykologi sosial. Berikut akan diuraikan lebih rinci tentang pengertian dan bagian-bagiannya, beserta contoh
Sejarah
adalah ilmu yang mengkaji kisah perbuatan-perbuatan manusia pada masa lampau dan masa sekarang. Unsur pokoknya adalah: manusia, ruang dan waktu. Sifat obyek adalah: perbuatan/peristiwa-peristiwa terpilih yang mempunyai arti bagi manusia. Sedangkan sumber bahan adalah bahan tertulis dan bahan tidak tertulis. Konsep pokok atau main Concepts seperti: perubahan, kontinuitas, waktu, dan lain-lain. Bahan kajiannya adalah kejadian peristiwa manusiawi yang mempunyai impact terhadap manusia, bangsa dalam gerak perkembangan atau sejarahnya seperti: (1) usaha/perjuangan usaha manusia mengatasi tantangan alam, (2) kehidupan bernegara, (3) kegiatan beragama dan berkebudayaan dengan pasang surutnya, (4) ide-ide dan paham-paham: feodalisme, imperialisme, kapitalisme, nasionalisme, Internasionalisme dan sebagainya. Semuanya dipertautkan dengan konsep-konsep, karakteristik sejarah dan disiplin-disiplin yang lain. Sifat-sifat karakteristik yang perlu diperhatikan dalam sejarah antara lain adalah (1) kejadian / data itu bersifat hanya sekali saja terjadi dan tak mungkin terjadi lagi, (2) perkembangan peristiwa/ kejadian histories itu bersifat kausal, (3) subyektivitas dalam penilaian
Geografi
adalah suatu studi tentang hubungan keruangan, meliputi aspek- aspek fisik, biotic, dan sosial, tetapi dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu lain karena geografi memusatkan perhatiannya/studinya pada penyebaran atau distribusi, gejala/penomena serta hubungan dengan gejala-gejala dengan tempat atau ruang. Contoh konsep-kosep geografi antara lain: distribusi, ruang, lokasi, wilayah, bentangan alam, sumber alam, lingkungan hidup, globalisasi, penduduk, sungai, laut, gunung dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut dapat terbagi-bagi lagi kepada konsep yang lebih khusus. Misalnya: bentangan alam dapat berupa konsep tentang gunung, lembah, sungai dan seterusnya.
a. Distribusi keruangan (spatial distribution). Untuk dapat melihat distribusi keruangan diperlukan ,fakta yang cukup banyak. Fakta tersebut memiliki tiga unsur yang bersamaan ialah waktu, lokasi, dan kesamaan ciri-ciri.
b. Wilayah atau region adalah suatu daerah yang ditandai dengan adanya keseragaman atas satu atau lebih fenomena/kenampakan. Wilayah dapat dibedakan atas: 1) Wilayah Formal, ialah yang ditandai dengan adanya asosiasi areal, yang dapat berupa biotik atau physik, 2) Wilayah Fungsional yang ditandai dengan adanya interaksi ruang misalnya kota sebagai pusat dengan kota-kota satelit yang mengitarinya yang dihubungkan oleh adanya
c. Asosiasi areal adalah suatu areal yang memungkinkan terjadi suatu wilayah Formal, misalnya adanya dataran rendah didaerah pantai, mungkin dapat
d. Intraksi keruangan yaitu adanya hubungan antara fakta dengan fakta lain di dalam satu ruang antar ruang dapat berwujud intraksi. Dengan adanya intraksi biasanya akan timbul fakta baru. Misalnya: karena adanya intraksi antara manusia dengan lingkungannya terjadilah disuatu tempat, sawah,
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Menengah Atas
A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang disusun dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dan diberikan mulai dari SD sampai SMA. Pada satuan pendidikan SMA mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memuat kajian sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah secara terintegrasi dan terpadu. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif.
Menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang fungsional akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karenanya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang untuk membangun dan membina peserta didik dalam memasuki kehidupan bermasyarakat pada masa yang akan datang yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.
Pada hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi suatu mata pelajaran yang dapat mengantarkan peserta didik untuk dapat menjawab masalah-masalah mendasar tentang individu, masyarakat, pranata sosial, problem sosial, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat berbangsa, dari waktu ke waktu.
Peserta didik diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas melalui substansi Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah dirancang secara sistematis dan komprehensif. Dengan demikian, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diperlukan bagi peserta didik dalam proses menuju kedewasaan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat di kelak kemudian hari. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.
B. Tujuan Pembelajaran IPS
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
Menginformasikan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah, melalui pendekatan pedagogis dan psikologis
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial
Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
Meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara lokal nasional maupun global.
C. Ruang LingkupPembelajaran IPS
Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek aspek sebagai berikut.
1. Sistem Sosial dan Budaya
2. Manusia, Tempat, dan Lingkungan
3. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
4. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan.
D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD
E. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP
F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA
Kelas X, Semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Memahami kondisi geografis, permasalahan kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
1.1
Mendeskripsikan permasalahan kependudukan di Indonesia
1.2
Mendeskripsikan upaya penanggulangannya. permasalahan kependudukan di Indonesia
2. Memahami bentuk-bentuk hubungan antar kelompok sosial
2.1
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat.
2.2
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial
3. Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan kegiatan ekonomi masyarakat
3.1
Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi
3.2
Mendeskripsikan peranan pemerintah dalam upaya penanggulangan angkatan kerja dan tenaga kerja
4. Memahami sebab akibat Perang Dunia I dan II di Indonesia serta usaha persiapan kemerdekaan Indonesia
4.1
Mengidentifikasi hubungan sebab akibat Perang Dunia I dengan keadaan politik dan ekonomi di Indonesia
4.2
Mengidentifikasi hubungan sebab akibat Perang Dunia II dengan keadaan politik dan ekonomi di Indonesia, serta usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia
Kelas X, Semester 2
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5. Memahami kondisi geografis, permasalahan kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
5.1
Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup di Indonesia
5.2
Mendeskripsikan upaya penanggulangannya permasalahan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
6. Memahami bentuk-bentuk hubungan antar kelompok sosial
6.1
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
6.2
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial
7. Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan kegiatan ekonomi masyarakat
7.1
Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia.
7.2
Mendeskripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional
8. Memahami perjalanan bangsa Indonesia sejak pendudukan Jepang sampai dengan persiapan kemerdekaan Indonesia
8.1
Mendeskripsikan pendudukan militer Jepang di Indonesia dan pengaruhnya terhadap pergerakan kebangsaan Indonesia
8.2
Mendeskripsikan usaha persiapan kemerdekaan Indonesia
Kelas XI, Semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan negara maju
1.1
Mendeskripsikan bentuk dan pola muka bumi
1.2
Mendeskripsikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
2. Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
2.1
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
2.2
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
3. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
3.1
Mendeskripsikan uang
3.2
Mendeskripsikan lembaga keuangan
4. Memahami perkembangan kehidupan bangsa Indonesia pada saat sekitar proklamasi dan usaha mempertahankan kemerdekaan
4.1
Mendeskripsikan peristiwa proklamasi dan proses terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia
4.2
Mengidentifikasi usaha perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
Kelas XI, Semester 2
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5. Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan negara maju
5.1
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara berkembang
5.2
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara maju
6. Memahami perilaku Masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
6.1
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
6.2
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
7. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
7.1
Mendeskripsikan kebijaksanaan moneter
7.2
Mendeskripsikan dampak kebijakan moneter terhadap perekonomian Indonesia
8. Memahami perkembangan kehidupan bangsa Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
8.1
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa politik Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
8.2
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa ekonomi Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
Kelas XII, Semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Memahami kondisi fisik dan manusia Kawasan Asia Tenggara
1.1
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Asia Tenggara
1.2
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Asia Tenggara
2. Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
2.1
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
2.2
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
3. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
3.1
Mendeskripsikan perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia
3.2
Mendeskripsikan dampak perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia
4. Memahami perjalanan bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan dalam perjuangan pengembalian Irian Barat, sampai dengan G 30 S PKI
4.1
Mendeskripsikan peristiwa perjuangan pengembalian Irian Barat ke NKRI
4.2
Mendeskripsikan peristiwa G 30 S PKI
Kelas XII, Semester 2
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5. Memahami kondisi fisik dan manusia kawasan Ausralia-Oceania
5.1
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Australia-Oceania
5.2
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Australia-Oceania
6. Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
6.1
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
6.2
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
7. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
7.1
Mendeskripsikan kerjasama antar negara di bidang ekonomi dan peran Indonesia dalam dunia internasional
7.2
Mendeskripsikan peran Indonesia dalam bidang ekonomi di dunia internasional
8. Memahami perjalanan bangsa Indonesia pada masa Orde Baru dan Era Reformasi serta bentuk kerjasama Indonesia dengan dunia internasional
8.1
Mendeskripsikan perkembangan sosial, ekonomi, politik masa Orde Baru
8.2
Mendeskripsikan perkembangan sosial, ekonomi, politik Era Reformasi
8.3
Mengidentifikasi kerjasama antar negara dan peran Indonesia dalam dunia internasional
E. Arah Pengembangan Pembelajaran IPS
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.
Diposkan oleh rendy putra valkyrie, corner di 19.41
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Langganan:
Komentar (Atom)